Kamis, Maret 31

Gone With The Wind


Suka sekali dengan novel epic yang menceritakan love story di balik perang sipil Amerika abad 18..

Ada banyak quotes di novel itu yang aku suka, malah jadi pedoman hidup. Misalnya Scarlett O Hara (tokoh cewek legendaris di novel itu) yang bilang : Tommorow is Another Day, bahasa gampangnya besok ya besok aja gw pikirin gimana nanti aja.

Kalau dia pusing dia akan bilang, engga akan aku pikirkan sekarang kepusinganku, kupikirkan besok aja..jadi ujung2 nya sebenernya dia engga mau mikir tentang hal yang emang ngga mau dia pikirin.

Dulu aku begitu...
setiap hal aku pikirin dari a-z semua mua aku pikirin...
Bahkan sebisa mungkin aku akan memikirkan even yang belum terjadi..

Sekarang engga lagi..
Aku hanya memikirkan apa yang terjadi sekarang saja
Tapi sambil berpikir dan yakin tentang apa yang belum terjadi.
Mikirnya yang baik baik saja

Tapi bukan tentang novel ini yang aku ingin bicarakan...
tp tentang hatiku sendiri

Jumat, Maret 25

Sesampainya Aku di Pantai (Perjalanan ke ujung sukabumi Part 2)


Sesampainya aku di pantai
Rasanya mengerikan
Mungkin karena aku tak begitu suka pantai
baik dulu maupun sekarang
Mauku ke tempat itu karena terlanjur janji dengan sepupuku


Sunset akan menjelang ketika aku datang
Twilight atau di senja yang remang kalau bahasa Indonesianya
Badan lelah belasan jam tersiksa dalam kapsul bermesin dan berjendela 8
remuk redam mencari penginapan
tapi tak ada satupun yang menawarkan
Mereka bilang ini akhir pekan dan liburan
tawaran menginap di rumah warga adalah pilihan

"Tidur di atas karang aja yuk teh?"
Agak freak memang sepupuku itu, tapi memandang lepas pantai tak satupun orang

Kupikir, ini pantai pribadi apa tempat jin buang anak?
Kenapa tidak satupun orang kulihat
Atau mungkin aku datang salah waktu dan tempat.


Akhirnya..menemukan karang yang lebar dan aku bisa memanjatnya dengan mudah
Berjongkok dan berfotolah aku dan sepupuku disana.

Tapi esensinya bukan foto itu

Di Pantai sendirian (berdua sepupuku tepatnya) berbaring di karang (kuat banget kami ya) melihat matahari yang menuju pulang....

merinding.....
rasanya Tuhan melihat ku langsung....
rasanya langit tersenyum

Bukan kata kata hiperbola ini mah
betul

Ujung Genteng yang sepi dan hanya satu dua orang yang lewat saat itu
Bikin aku (entah sepupuku) merasa tarik menarik dengan energi yang tak kelihatan.

Before Sunrise


Ini bukan judul fim
tapi setelah mewati sunset dengan sukses di atas karang
mataku mulai tak bisa kompromi

"Jalan ke pantai pangumbahan aja yuk" ajakku
tapi niatku urung terlaksana begitu tau jaraknya kurang lebih 30 menit naik ojek, kebayang kalau jalan betapa jauhnya!!

So...aku dengan arah menuju ke pantai pangumbahan dengan harap harap semoga ada yang menawari penginapan..

Ada satu dua ibu ibu yang mengajak kami untuk singgah
Tapi perasaanku mengatakan jangan Nggi..


Tapi akhirnya kakiku tak kuat lagi...

Ketika akhirnya ada warung yang oleh pemiliknya di klaim sebagai "kafe" menawarkan ku untuk singgah dengan harga inap yang sangat murah.

Daripada bermalam di pasir pantai sunyi dan takut tinggal nama esok paginya, aku langsung mengiyakan saja, tanpa curiga kafe apa yang kusinggahi itu.

TERNYATA OH MY GOD

warung remang remang di bibir pantai tempat supir, tukang ojek, dan lelaki kelas murahan tak jelas yang gemar melepaskan kebutuhan dengan resiko tertular penyakit kelamin.

"Jangan tidur teh, kita harus tetap waspada!" saran sepupuku.

"Ho-oh" kataku mengamini.


Bersambung lagi ah,,tunduh

Nah kulanjutkan lagi ya, tau ngga kelanjutan cerita ini detik ini kutulis lagi berselang 2 tahun dari jarak kalimat di atas...kalimat di atas terakhir kutulis tahun 2010, dan sekarang sudah tanggal 27 Februari 2013, which 2 tahun lebih 2 bulan...


Gila yah..yah itulah mood seorang penulis...yah kalo aku boleh menyebut diri sendiri penulis...yaelah gapapalah yang memuji diri kita awalnya adalah diri kita sendiri dulu. Untuk menciptakan percaya diri dan itu perlu.

Kalau aku lagi ngga mood mbok sampai kapan juga ga akan aku jabanin..paling cuma baca doang

Nah setelah itu akhirnya aku sama sepupuku itu masuklah ke kafe itu...bukan kafe sekali lagi warung remang remang.


Masalahnya kenapa aku mau aja masuk ke warung itu karena aku sudah lelah berjalan..alah...jauh banget dari pantai tempatku berdiri ke penginapan. Ada sich penginapan yang kelas melati tp dia nawarin harga yang bagaikan bintang 5..what the F.

Mungkin dia berasa satu-satunya penginapan yang berdiri di tengah pantai itu..

Jadi berasa belagu aja gitu..

So akhirnya aku sama sepupuku itu bertekad masuk ke warung itu hanya agar enggak keleleran tidur dipantai takut diperkosa ikan hiu...hihihihihi

Eh tapi...ada tapinya...

Yang melegakanku adalah warung si Madam ini (bayangkan si pemilik warung aja udah mengenalkan dirinya sebagai madam, alias terang terangan mengaku germo) punya kamar mandi alias WC yang bersih.

Bersih aja gitu...

Ya untuk ukuran di pantai yang jauh dari air bersih ini kamar mandi sangat layak untuk petualang kesasar dan amatiran kaya aku...

Setelah mandi bersih padahal mah tunduh sekali, aku ditawari pop mie. Sepupuku terus mengawasiku dengan ketat karena, ini si madam rupanya sedang mengincarku untuk jadi salah satu anak buahnya. ASTAGA!!!


Masa wajah segini polosnya, segini innocentnya dikira perempuan begituan.

Mungkin karena polosnya itu dia langsung mengira aku komiditi fresh yang laku dijual... wihhhh


Akhirnya aku paksa untuk terjaga terus dan waspada , takutnya dia melakukan sesuatu bagaikan di film film misalnya ngasih aku obat apa gitu...

Akhirnya aku enggak kuat sama sekali ..tidurlah aku dengan sepupuku yang ibaratnya dia tidur tapi setengah terjaga kaya pendekar pendekar di novel silat yang pernah kubaca.

Sunrise yang Indah di Ujung Genteng


Foto yang aku pasang di atas ini adalah sore hari waktu itu sunset yah, pasa baru nyampe banget tuh. 
Nah, foto yang ini : pas waktu bangun tidur kira kira jam 4.30 matahari antara enggan terbit dan tidak. Karena langit tetap kulihat biru pucat seperti malam, tapi ada seberkas (kok bahasanya mendadak dangdut gini ya) seberkas cahaya putih samar samat di ufuk timur. Hmmm,,merinding juga aku kalau inget foto ini lagi. Berasa kembali ke hari itu. Jadi gimana ya..bayangin aja, bangun tidur hanya 3 jam dengan badan remuk redam karena berbaring di kasur kapuk yang tipis dan bau apek tapi seprainya lumayan bersih, dan keluar ke pantai hanya kami berdua.

Sumpah...cuma kami berdua. Aku dan sepupuku. Dalam hatiku, pantas disebut pantai perawan dan pantas aja disebut masih original. Karena memang belum banyak terjamah orang. Boro boro turis yang surfing kaya di kuta. Ini mah pure only the two of us aja yang pagi itu jalan di pantai yang sumpah sepi. So that why i hate beach. Hihhh...takan ku ulang..

Nah, keindahannya memang harus diakui. Kalau aku penggila pantai mungkin bisa dikatakan menemukan surga. Bayangin aja cuman berdua di pantai seluas itu. Mana lihat kedepan langsung ke laut lepas yang berbatasan dengan Samudra Hindia apa gitu..kalau engga salah. Dan airnya masih sangat bening sekali. Bening luar biasa. Bahkan binatang laut, bintang laut, dan something creature Who i dont know how to call it bisa langsung kereka, begitu aja di Sony Erricson W 380 ku..Edan ya...dengan hape jadul itu. Aku udah bawa bebe saat itu. Tapi BB dengan kamera yang masya Allah jeleknya. Kalah ama Soner. Nah, akhirnya aku menyebut diriku lebih ke orang yang memanfaatkan keindahan pantai itu untuk ber narsis ria dan bukan karena seneng banget pantai itu. Ah panjang lah..

So pagi itu dihabiskan dengan jalan dari ujung ke ujung pantai. Sebetulnya ada fotoku yang jalan sendirian di pantai. Saking masih bersihnya, aku inget deh, angel yang diambil adik sepupuku somehow membuatku tampak kaya difoto dimana gitu.... Bagus..tapi sayang enggak bisa ku up load disini. 

Air Terjun Cikaso/ Curug Cikaso

Nah -nah lebih bisa kusebut aku pecinta air terjun daripada pantai. Kenapa aku suka air terjun pernah kubahas di postinganku sebelumnya. Berkaitan dengan masa laluku dan masa kecilku yang memang rada aneh sebelumnya

Well, sehabis berpamit ria sama si Madam dan membayar biaya menginap semalam yang seadanya, dan dia juga bersedia dibayar seadanya, akhirnya aku dan sepupuku dengan senang hati meninggalkan si Madam dan penginapan freak nya itu. Warung merangkap rumah bordil. 

Aku meninggalkan pantai itu dengan berjalan kaki menuju gerbang. Kalau bisa disebut gerbang. Karena waktu Desember 2010 ini, saat kejadian ini, gerbang ucapan selamat datang pun seingatku tidak ada. Yang ada sebagai penanda hanya batu besar.

Aku berjalan sambil menghitung uang dalam saku jacket C2 oranye kesayanganku. Tinggal 400 ribu sekian. Yah Well, harus cukup sampe Jakarta gimanapun caranya. Hari itu entah bagaimana. Sempet kepikir numpang truk aja sekalian macam sapi. Tapi kok ya kebangeten. Akhirnya aku dan sepupuku yang menganggap diri kami sebagai petualang sejati dengan padahal cenderung tolol dan nekad akhirnya alhamdulilah tertolong lagi. Setelah lama berdiri di ujung jalan ada angkot yang lewat. Dia bilang mau ke Surade. Aku inget deh, angkotnya berwarna merah. Dan aku melihat wajah supir angkot itu berasa bagaikan pria penolong paling tampan sedunia. Karena di ujung dunia antah berantah gitu kok ya ada angkot lewat. Karena hari masih pagi dan perut enggak terlalu laper (kami sempat sarapan pop mie panas di warung Madam) kami akhirnya naek angkot itu dan wussssss...terasa cepat. Di tengah jalan kami liat peradaban sudah semakin kentara. Ada bocah perempuan berseragam SMP naek angkot dan kalau sekarang mirip Fatin Shidqia Lubis X Factor Indonesia deh. Persis aku inget.

Aku tanya itu bocah, dengan pertanyaan konyol tapi bagiku untuk meyakinkan kalau aku bukan berada di negeri hantu. Aku tanya dia, " halo sekolah dimana, kelas berapa dan punya facebook engga?" hihihihi.

Dan jawab dia : punya! Ahhh...leganya.....ternyata aku ada di dunia normal.

Dalam Apitan Air Terjun Mistis Hihihihii
Turun dari angkot itu yang hanya membayar 4000 each, kalau enggak salah. Aku mampir dulu di warung bakso. Nah soal si bakso ini menyenangkan juga. Dan memorable, karena enak banget. Beneran deh. Empukkkk banget. Penjualnya juga manis, dan manusia dan bukan Madam, dan wajahnya baik baik. hahahahaha...

Aku tanya dia, kalau kami mau ke curug Cikaso sebelum pulang ke Jakarta. And she said, lebih baik naik ojeg aja. Jadi bisa keburu bulak balik dalam waktu 1 jam. Intinya harus jam 11 paling lambat harus udah meninggalkan Surade menuju Sukabumi.

So, aku dan sepupuku langsung kembali sepakat melakukan kenekatan yang konyol dan berbahaya. Apa coba? Naek ojeg dibonceng 3. Astaga!!!.

Kata abank Ojeg nya, " Hayulah neng di 3 weh " (Ayo , dibonceng jadi bertiga ajah). Gila ya..padahal badanku tidak langsing. Yah demi menghemat uang plus dikampung pula jauh dari polisi aku langsung HAP naek ke ojeg dan menuju Curug Cikaso.


Curug Cikaso





Senin, Desember 27

Trip Penuh Emosi ke Ujung Sukabumi PART ONE


Jumat,24 Desember 2010

Jam. 4.30 am

Tiba- tiba aja kepikiran mendadak, karena seperti biasa aku orangnya sangat suka mendadak dan impulsif, pengen ke Pantai...padahal semua orang tau aku engga suka Pantai.


"Yakin kamu berani ke Ujung Genteng Di," tanyaku ke adik sepupu. Dia sich oke aja. Secara sangat suka runaway juga sama seperti aku kalau lagi ingin menghindar dari masalah, or, kalau lagi sangat merasa jenuh. Sama-sama suka runaway dan bukan menghadapi masalah, dan sama-sama BERANI! Ini yang perlu digarisbawahi.

Akhirnya jam 5 subuh Jumat tanggal 24 dimana malamnya holy night itu, dengan cueknya, hanya pake sendal jepit, celana pendek, jacket dan ransel dengan baju asal masuk, aku pun pergi. Kepalaku tanpa rencana. Isinya hanyalah "kumaha engke lah", a.k.a gimana nanti aja. Lagipula, anggie terbiasa hidup dengan kata gimana nanti...

Sepupuku semangat sekali, mungkin karena dia belum pernah ke Ujung Genteng xixixi, padahal aku juga
belum...bahkan engga pernah terlintas sama sekali tadinya, kan udah dibilang sangat benci pantai.

Akhirnya setelah sambil mikir di jalan naek apa, kita memutuskan untuk naek kereta aja. Alasannya, pertama, biar ada variasi, secara katanya ke Ujung Genteng bakalan berbelas-belas jam, kedua, bis yang langsung Jakarta-Sukabumi se subuh itu belum lah ada. Jadi dua sepupu ini pure backpacker dengan naik turun angkot dan kereta.

Gambir

Kereta kebagian jam 7.44 am. Setelah tengak- tengok (bahasanya selain tengak tengok apa coba?) kami memutuskan naek Pakuan Express, soalnya AC ekonomi adanya siang *padahal mah ga tau jam berapa*. 

Setelah juga memaksakan mata untuk tetap melek (even sepupuku akhirnya jatuh nge-gelesot (apa ya bahasa yang keren...semacam tergeletak begitulah) di stasiun, dan aku menghabiskan satu cup kopi yang rasanya amit-amit ga enak dan harganya mengerikan pula, jam 7.44 pun datanglah

Udah lama aku enggak naek Pakuan...tahun 2007 terakhir...jadi ada rasa kangen lagi...


Di dalam kereta habis-habisan ketawa. Untuk mengusir rasa ngantuk, setiap orang yang lewat kita komentarin, soalnya emang aku dan sepupuku sangat suka mengomentarin orang *padahal kita juga sama sekali ga perfect* tapi rasanya bikin ketawa aja liat expresi orang yang lucu, at least dalam benak kita loh yah...

BOGOR

Jam 8.44 nyampelah kita ke Bogor...ngantuk luar biasa. Tapi tetap dengan jiwa "kumaha engke" kita melanjutkan langkah

Di bogor sepupuku ribut ingin foto. Ya foto sajalah. Padahal aku udah ribuan kali ke Bogor. Secara kota ini pernah punya cerita kheses bagiku.

Well ya, sebagai backpacker amatiran, aku iyakan saja. Karena bagaimanapun juga, saran untuk foto itu berguna juga, karena kan untuk menggambarkan sejauh mana metamorfosa penampilan kami dari mulai kucel sampai super kucel, dari Jakarta ke Ujung Sukabumi.

Dari Stasiun Bogor aku putuskan untuk naek angkot. Yang decision maker ya aku lah.Bukannya aku lebih pinter, tapi bukankah dua orang bodoh jika bersatu akan menjadi setengah jenius xixixixi...:)

Naek angkot ke Terminal Bogor, kata Bapak timer disana, engga ada bis yang bisa membawa ke Surade, (oya nama Surade ini sangat familier dan terkenal untuk orang yang ingin trip ke Ujung Genteng, karena rupanya di Desa Surade di Kabupaten Sukabumi ini adalah Desa yang "berperadaban" terdekat dengan si laut Ujung Genteng yang bener-bener di Ujung ini)


"Jadi kami mesti kemana Pak?" tanyaku agak pusing. Gawat mana ongkos pas-pasan, nekat pula, bis nya engga ada pula.


Oya, saat perjalanan ini, sebetulnya aku dan sepupuku sedang dalam keadaan amat sangat bersitegang, karena sebab musabab dan permasalahan yang sangat tolol dan dangkal, apalagi kalau bukan lawan jenis...hhikksss huekssss, untung selesai...(I HOPE)

Mual rasanya mendadak perutku, juga kepalaku. Tapi kupaksakan aja liat sepupuku masih exciting tampaknya.

"Adanya ke Sukabumi dulu, baru ke Surade,kalau Neng mau nunggu yang langsung ke Surade takut kemaleman dan ga keburu" kata si Bapak.


Ya sud. Naeklah aku ke sebuah elf yang isinya berjejalan dengan berbagai bau badan manusia, jenis kelamin, dan terutama dengan penumpang yang melebihi quota. Harusnya isi 11 orang dengan supir, dipaksakan jadi 16. My Godness...beginilah rasanya miskin...

Terus kita berjejalan di dalam si Elf L 300 ini selama kurang lebih 3 jam, from Bogor-Sukabumi.

Sukabumi

Jam 1 atau 2 siang Aku sampai di Sukabumi. Kalau aja emang tujuannku bukan ke UJung Genteng, atau kalau saja uang di sakuku tidak pas-pasan atau kalau saja aku nekat berpetualang yang tidak amatiran, aku pengen keliling dulu kota Sukabumi. Karena nice kurasa...kulihat, ada sedikit gimana gitu... cocok buat runaway terus cari inspirasi menulis...

Sampai di Sukabumi, angkot berikutnya yang membawa ke Desa Surade tidak ditemukan.. Nah loh..apa kesiangan ya??

Ternyata si angkot bukan di terminal tempat kami turun. Tapi masih di terminal yang lain. So, kami naek ojeg yang lagi-lagi tidak murah harganya ke terminal yang dimaksud. Namanya Terminal Lembur Situ. Dari terminal inilah ada si kendaraan (lagi-lagi elf L 300) yang akan membawa kami ke Desa Surade, nama yang membuatku merinding entah kenapa. Dalam benakku itu desa terpencil dan gimanaaa gitu. Kaya game silent hill yang sering aku maenkan dulu di Play Station.

"Mau kemana Neng, " tanya si tukang ojeg iseng
"Mau ke Ujung Genteng Bang, "
"Wah kesorean atuh, berdua aja? cewek cewek?"
"Iya Bang,"
"Waduhhhhhh berani bangettttttt, " jawab si Tukang Ojeg. Entah kasian atau ngasih compliment dengan kalimat "waduh berani banget itu" lagi pula enggak bisa kunilai dari eksresi wajahnya karena aku di belakang. Cuman dari nada bicaranya aku tau dia salut. Makin merindinglah Aku.

Astaga Anggie...what the hell are you doing ???? mau kemana??? berdua pula, menuju desa antah berantah menjelang twilight...

Tapi terlanjur basah. lagian percuma juga, mau gimana lagi, masa mau balik lagi?

Sukabumi-Surade

Nah...akhirnya dari terminal Lembur Situ  ini, oya si terminal ini adalah Sub Terminal, jadi kecil, terminal yang hanya ada angkot angkot tempat transit nya mobil-mobil pengangkut sayur, pedagang dari dan ke Surade ke sekitrantnya dari Sukabumi.

Naek Elf L 300 lagi....dan kembali berdesak-desakan..

Yang unik, penumpang di elf yang ini ceria-ceria, tidak kucel dan penuh tanda tanya dan emosi seperti kami. Kupikir tujuan mereka dekat dan tidak sejauh kami, ternyata you know what mereka juga sama turun di Surade, dengan tanpa tidur sama sekali dan terus ngoceh tak berhenti, padahal aku dan sepupuku selama 4 jam duduk di L 300 itu terbanting ke kanan ke kiri, kepala kejedot sana sini, mengingat jalan berliku dan super berkelok-kelok. Luar Biasa akan membuat mual bagi yang mabok perjalanan.

Dulu aku sering mabok kalau perjalanan jauh. Tapi seiring waktu dan seringnya travelling serta usia yang semakin menua (hihihi) aku enggak pernah mual lagi.

Itu jalan Sukabumi-Surade jauh lebih parah dari jalur Puncak, atau Cadas Pangeran di Jawa Barat, ketika lepas dari Cirebon menuju Bandung, atau dari Probolinggo ke Gunung bromo. Wah parah. Super berkelok-kelok mungkin yang mengalahkan seperti kelok 44 di Sumatra Barat yang konon katanya jika ingin ke sebuah kota bernama Kepahyang, kelok serupa akan membuat orang mual tak karu karuan.

Alhamdulilah aku dan sepupuku tidak. Tetap nyengir dengan cueknya dan tetap ketawa ketawa-tidur, ketawa-tidur lagi, dengan punggung pegal dan pantat hampir rata rasanya.

Finally.. Surade

Jam 4.pm

Terminal desa Surade asli sepiiiiiiii, enggak ada satupun angkot, elf, kuda, becak, atau apapun...

Sama sekali engga ada. Sehingga supir Elf pun bertanya, apakah kami mau carter saja langsung ke Ujung Genteng, tadinya aku akan mengangguk aja, daripada terlantar di desa terpencil yang jauh dari peradaban begini.

Eh untung lah, ada Elf L 300 berikutnya yang datang dan menawarkan kepada kami untuk ikut aja sekalian dengan rombongan yang mau ke Ujung Genteng. Jadi kami pun langsung mengelus dada mengucap syukur, Alhamdulilah Allah selalu melindungi. Selalu.

Dengan perasaan gimana gitu aku langsung berdizikir....astaga,,,how many hour again I had to going trough untuk nyampe pantai yang katanya berbatasan langsung dengan samudra Hindia ini?

Ternyata hanya 1 jam (hanya loh yah..mengingat dari pagi tadi, selalu minimal 3 jam duduk terpaku di dalam mobil..

Ujung Genteng

Ternyata jaraknya kurang lebih 33 km...ugghhhhh..total perjalananku seharian dari Jakarta berarti 12 jam karena jam 5 pm tepat aku sampai di pantai Ujung Genteng ini.

Senin, Juni 14

Apakah Benar Hanya Kau?

apakah benar hanya kau.
kurasa tidak juga
apakah mungkin jalanku menuju kau?
kadang bahkan sering kuragukan itu.
tapi hatiku yang lain bertanya
mengapa sulit kutemukan kekuranganmu/
setiap kuberhasil menemukannya
setiap kali pula tersadar betapa semunya

tanpa cela
tanpa cacat
setidaknya itu tampaknya kau terlihat

Kenapa sulit sekali untuk mengatakan bahwa memang tak mungkin
tak mungkin
tak mungkin

Perutku masih sering mendadak kram dan mulas setiap namamu melintas
Jantungku berdebar mendadak setiap kau melintas dalam benak

Ya Tuhan
sampai kapan aku seperti ini?

berpijak tapi tak menapak
berdiri tapi goyah
tersenyum tapi pura pura

kadang ketulusan yang kupikir kupunya
satu satunya kupunya adalah
saat aku dengan menerima kau sepenuhnya
dengan segala ketidakmungkinan yang kau punya..

sku mencintai kekuranganmu
aku memuja kekuranganmu
yang bagiku justru hasil
dari pencarianku selama ini

Jumat, Juni 11

BUKAN KAMU

Mungkin aku adalah sesuatu yang terlewatkan olehmu
Mungkin bagimu bertemu denganku terlambat lima atau sepuluh tahun
Entah kenapa mengenangmu kali ini sesulit aku melupakanmu
Tak ada lagi rasa
Hanya menyisakan pertanyaan mengapa

Mengapa
dan mengapa
meski seharusnya tak perlu lagi dipertanyakan mengingat
sudah terlanjur terjadi

Tapi adalah wajar jika aku bertanya
mengapa harus kau?
mengapa harus kau?
mengapa harus kau?

bertemu denganmu lagi sama sekali tidak pernah melintas
dalam salah satu khayalanku yang terliar sekalipun
Namamu sama sekali tidak pernah tercatat dalam radar otakku sejak dulu
Karena aku tak bahkan tak berani membayangkan itu

Mungkin Allah meletakanku pada posisi itu
Mempersilakanku masuk pada jalan yang sudah dibukaNya
berani atau tidakkah aku masuk dan menyapa takdirNya.
Tapi tidak
Kebodohan dan ketidakmampuanku mengalahkan perasaan dan pikiran
membuatku akhirnya tak jadi menjalani jalan itu.

Jalan salah yang kutempuh
secara tak sengaja saat denganmu
barangkali
mungkin pasti
adalah representasi
dari ketidakyakinanku
keraguanku
yang tidak mau mengakui
bahwa orangnya BUKAN KAMU

Maha Melihat

Opick and Amanda
Seiring waktu berlalu,
Tangis tawa dinafasku.
Hitam putih di hidupku, jalani takdirku.
Tiada satu tersembunyi
Tiada satu yang terlupa,
Segala apa yang terjadi engkaulah saksinya,
Kau yang Maha Mendengar,
Kau yang Maha Melihat
Kau yang Maha Pemaaf
padaMu hati bertobat.
Kau yang Maha Pengasih.
Kau yang Maha Penyanyang,
Kau yang Maha Pelindung
padaMu semua bergantung.
Yang dicinta kan pergi.
Yang didamba kan hilang
Hidup kan terus berjalan
Meski penuh dengan tangisan.

Andai bisa kumengulang waktu hilang dan terbuang.
Andai bisa kukembali hapus semua pedih.

Andai mungkin aku bisa kembali ulang segalanya,
Tapi hidup takan bisa meski penuh dengan air mata.

Kamis, Juni 3

Jantungku Copot dan Jatuh ke Sendal

Jantungku berebar tak karuan
selalu seperti ini
rasanya copot dan jatuh ke sandalku
selalu seperti ini
setiap kali berbicara soal hati

apalagi tadi malem

kenapa harus bales sms nya sich..
kebodohan yang doble
triple malah
sangat tolol

sms sok tak butuh
sms sok ga inget
padahal setiap inci dari tubuhnya aku ingat (eh engga juga)
intinya..menyebalkan
ya Tuhan

"istiqomahkan:ilfilku