Jumat, Maret 25

Sesampainya Aku di Pantai (Perjalanan ke ujung sukabumi Part 2)


Sesampainya aku di pantai
Rasanya mengerikan
Mungkin karena aku tak begitu suka pantai
baik dulu maupun sekarang
Mauku ke tempat itu karena terlanjur janji dengan sepupuku


Sunset akan menjelang ketika aku datang
Twilight atau di senja yang remang kalau bahasa Indonesianya
Badan lelah belasan jam tersiksa dalam kapsul bermesin dan berjendela 8
remuk redam mencari penginapan
tapi tak ada satupun yang menawarkan
Mereka bilang ini akhir pekan dan liburan
tawaran menginap di rumah warga adalah pilihan

"Tidur di atas karang aja yuk teh?"
Agak freak memang sepupuku itu, tapi memandang lepas pantai tak satupun orang

Kupikir, ini pantai pribadi apa tempat jin buang anak?
Kenapa tidak satupun orang kulihat
Atau mungkin aku datang salah waktu dan tempat.


Akhirnya..menemukan karang yang lebar dan aku bisa memanjatnya dengan mudah
Berjongkok dan berfotolah aku dan sepupuku disana.

Tapi esensinya bukan foto itu

Di Pantai sendirian (berdua sepupuku tepatnya) berbaring di karang (kuat banget kami ya) melihat matahari yang menuju pulang....

merinding.....
rasanya Tuhan melihat ku langsung....
rasanya langit tersenyum

Bukan kata kata hiperbola ini mah
betul

Ujung Genteng yang sepi dan hanya satu dua orang yang lewat saat itu
Bikin aku (entah sepupuku) merasa tarik menarik dengan energi yang tak kelihatan.

Before Sunrise


Ini bukan judul fim
tapi setelah mewati sunset dengan sukses di atas karang
mataku mulai tak bisa kompromi

"Jalan ke pantai pangumbahan aja yuk" ajakku
tapi niatku urung terlaksana begitu tau jaraknya kurang lebih 30 menit naik ojek, kebayang kalau jalan betapa jauhnya!!

So...aku dengan arah menuju ke pantai pangumbahan dengan harap harap semoga ada yang menawari penginapan..

Ada satu dua ibu ibu yang mengajak kami untuk singgah
Tapi perasaanku mengatakan jangan Nggi..


Tapi akhirnya kakiku tak kuat lagi...

Ketika akhirnya ada warung yang oleh pemiliknya di klaim sebagai "kafe" menawarkan ku untuk singgah dengan harga inap yang sangat murah.

Daripada bermalam di pasir pantai sunyi dan takut tinggal nama esok paginya, aku langsung mengiyakan saja, tanpa curiga kafe apa yang kusinggahi itu.

TERNYATA OH MY GOD

warung remang remang di bibir pantai tempat supir, tukang ojek, dan lelaki kelas murahan tak jelas yang gemar melepaskan kebutuhan dengan resiko tertular penyakit kelamin.

"Jangan tidur teh, kita harus tetap waspada!" saran sepupuku.

"Ho-oh" kataku mengamini.


Bersambung lagi ah,,tunduh

Nah kulanjutkan lagi ya, tau ngga kelanjutan cerita ini detik ini kutulis lagi berselang 2 tahun dari jarak kalimat di atas...kalimat di atas terakhir kutulis tahun 2010, dan sekarang sudah tanggal 27 Februari 2013, which 2 tahun lebih 2 bulan...


Gila yah..yah itulah mood seorang penulis...yah kalo aku boleh menyebut diri sendiri penulis...yaelah gapapalah yang memuji diri kita awalnya adalah diri kita sendiri dulu. Untuk menciptakan percaya diri dan itu perlu.

Kalau aku lagi ngga mood mbok sampai kapan juga ga akan aku jabanin..paling cuma baca doang

Nah setelah itu akhirnya aku sama sepupuku itu masuklah ke kafe itu...bukan kafe sekali lagi warung remang remang.


Masalahnya kenapa aku mau aja masuk ke warung itu karena aku sudah lelah berjalan..alah...jauh banget dari pantai tempatku berdiri ke penginapan. Ada sich penginapan yang kelas melati tp dia nawarin harga yang bagaikan bintang 5..what the F.

Mungkin dia berasa satu-satunya penginapan yang berdiri di tengah pantai itu..

Jadi berasa belagu aja gitu..

So akhirnya aku sama sepupuku itu bertekad masuk ke warung itu hanya agar enggak keleleran tidur dipantai takut diperkosa ikan hiu...hihihihihi

Eh tapi...ada tapinya...

Yang melegakanku adalah warung si Madam ini (bayangkan si pemilik warung aja udah mengenalkan dirinya sebagai madam, alias terang terangan mengaku germo) punya kamar mandi alias WC yang bersih.

Bersih aja gitu...

Ya untuk ukuran di pantai yang jauh dari air bersih ini kamar mandi sangat layak untuk petualang kesasar dan amatiran kaya aku...

Setelah mandi bersih padahal mah tunduh sekali, aku ditawari pop mie. Sepupuku terus mengawasiku dengan ketat karena, ini si madam rupanya sedang mengincarku untuk jadi salah satu anak buahnya. ASTAGA!!!


Masa wajah segini polosnya, segini innocentnya dikira perempuan begituan.

Mungkin karena polosnya itu dia langsung mengira aku komiditi fresh yang laku dijual... wihhhh


Akhirnya aku paksa untuk terjaga terus dan waspada , takutnya dia melakukan sesuatu bagaikan di film film misalnya ngasih aku obat apa gitu...

Akhirnya aku enggak kuat sama sekali ..tidurlah aku dengan sepupuku yang ibaratnya dia tidur tapi setengah terjaga kaya pendekar pendekar di novel silat yang pernah kubaca.

Sunrise yang Indah di Ujung Genteng


Foto yang aku pasang di atas ini adalah sore hari waktu itu sunset yah, pasa baru nyampe banget tuh. 
Nah, foto yang ini : pas waktu bangun tidur kira kira jam 4.30 matahari antara enggan terbit dan tidak. Karena langit tetap kulihat biru pucat seperti malam, tapi ada seberkas (kok bahasanya mendadak dangdut gini ya) seberkas cahaya putih samar samat di ufuk timur. Hmmm,,merinding juga aku kalau inget foto ini lagi. Berasa kembali ke hari itu. Jadi gimana ya..bayangin aja, bangun tidur hanya 3 jam dengan badan remuk redam karena berbaring di kasur kapuk yang tipis dan bau apek tapi seprainya lumayan bersih, dan keluar ke pantai hanya kami berdua.

Sumpah...cuma kami berdua. Aku dan sepupuku. Dalam hatiku, pantas disebut pantai perawan dan pantas aja disebut masih original. Karena memang belum banyak terjamah orang. Boro boro turis yang surfing kaya di kuta. Ini mah pure only the two of us aja yang pagi itu jalan di pantai yang sumpah sepi. So that why i hate beach. Hihhh...takan ku ulang..

Nah, keindahannya memang harus diakui. Kalau aku penggila pantai mungkin bisa dikatakan menemukan surga. Bayangin aja cuman berdua di pantai seluas itu. Mana lihat kedepan langsung ke laut lepas yang berbatasan dengan Samudra Hindia apa gitu..kalau engga salah. Dan airnya masih sangat bening sekali. Bening luar biasa. Bahkan binatang laut, bintang laut, dan something creature Who i dont know how to call it bisa langsung kereka, begitu aja di Sony Erricson W 380 ku..Edan ya...dengan hape jadul itu. Aku udah bawa bebe saat itu. Tapi BB dengan kamera yang masya Allah jeleknya. Kalah ama Soner. Nah, akhirnya aku menyebut diriku lebih ke orang yang memanfaatkan keindahan pantai itu untuk ber narsis ria dan bukan karena seneng banget pantai itu. Ah panjang lah..

So pagi itu dihabiskan dengan jalan dari ujung ke ujung pantai. Sebetulnya ada fotoku yang jalan sendirian di pantai. Saking masih bersihnya, aku inget deh, angel yang diambil adik sepupuku somehow membuatku tampak kaya difoto dimana gitu.... Bagus..tapi sayang enggak bisa ku up load disini. 

Air Terjun Cikaso/ Curug Cikaso

Nah -nah lebih bisa kusebut aku pecinta air terjun daripada pantai. Kenapa aku suka air terjun pernah kubahas di postinganku sebelumnya. Berkaitan dengan masa laluku dan masa kecilku yang memang rada aneh sebelumnya

Well, sehabis berpamit ria sama si Madam dan membayar biaya menginap semalam yang seadanya, dan dia juga bersedia dibayar seadanya, akhirnya aku dan sepupuku dengan senang hati meninggalkan si Madam dan penginapan freak nya itu. Warung merangkap rumah bordil. 

Aku meninggalkan pantai itu dengan berjalan kaki menuju gerbang. Kalau bisa disebut gerbang. Karena waktu Desember 2010 ini, saat kejadian ini, gerbang ucapan selamat datang pun seingatku tidak ada. Yang ada sebagai penanda hanya batu besar.

Aku berjalan sambil menghitung uang dalam saku jacket C2 oranye kesayanganku. Tinggal 400 ribu sekian. Yah Well, harus cukup sampe Jakarta gimanapun caranya. Hari itu entah bagaimana. Sempet kepikir numpang truk aja sekalian macam sapi. Tapi kok ya kebangeten. Akhirnya aku dan sepupuku yang menganggap diri kami sebagai petualang sejati dengan padahal cenderung tolol dan nekad akhirnya alhamdulilah tertolong lagi. Setelah lama berdiri di ujung jalan ada angkot yang lewat. Dia bilang mau ke Surade. Aku inget deh, angkotnya berwarna merah. Dan aku melihat wajah supir angkot itu berasa bagaikan pria penolong paling tampan sedunia. Karena di ujung dunia antah berantah gitu kok ya ada angkot lewat. Karena hari masih pagi dan perut enggak terlalu laper (kami sempat sarapan pop mie panas di warung Madam) kami akhirnya naek angkot itu dan wussssss...terasa cepat. Di tengah jalan kami liat peradaban sudah semakin kentara. Ada bocah perempuan berseragam SMP naek angkot dan kalau sekarang mirip Fatin Shidqia Lubis X Factor Indonesia deh. Persis aku inget.

Aku tanya itu bocah, dengan pertanyaan konyol tapi bagiku untuk meyakinkan kalau aku bukan berada di negeri hantu. Aku tanya dia, " halo sekolah dimana, kelas berapa dan punya facebook engga?" hihihihi.

Dan jawab dia : punya! Ahhh...leganya.....ternyata aku ada di dunia normal.

Dalam Apitan Air Terjun Mistis Hihihihii
Turun dari angkot itu yang hanya membayar 4000 each, kalau enggak salah. Aku mampir dulu di warung bakso. Nah soal si bakso ini menyenangkan juga. Dan memorable, karena enak banget. Beneran deh. Empukkkk banget. Penjualnya juga manis, dan manusia dan bukan Madam, dan wajahnya baik baik. hahahahaha...

Aku tanya dia, kalau kami mau ke curug Cikaso sebelum pulang ke Jakarta. And she said, lebih baik naik ojeg aja. Jadi bisa keburu bulak balik dalam waktu 1 jam. Intinya harus jam 11 paling lambat harus udah meninggalkan Surade menuju Sukabumi.

So, aku dan sepupuku langsung kembali sepakat melakukan kenekatan yang konyol dan berbahaya. Apa coba? Naek ojeg dibonceng 3. Astaga!!!.

Kata abank Ojeg nya, " Hayulah neng di 3 weh " (Ayo , dibonceng jadi bertiga ajah). Gila ya..padahal badanku tidak langsing. Yah demi menghemat uang plus dikampung pula jauh dari polisi aku langsung HAP naek ke ojeg dan menuju Curug Cikaso.


Curug Cikaso





Tidak ada komentar :

Posting Komentar