Sabtu, November 10

Kebohongan





Kali ini kita akan membahas kebohongan.

Ya kalian pasti tau apa itu kebohongan. 



Kebohongan adalah

"Maksud untuk menipu orang lain, seringkali dengan niat lebih lanjut untuk menjaga rahasia atau reputasi, perasaan melindungi seseorang atau untuk menghindari hukuman atau tolakan untuk satu tindakan. Berbohong adalah menyatakan sesuatu yang yang tahu tidak benar atau bahwa orang tidak jujur yakini benar dengan maksud bahwa seseorang akan membawanya untuk kebenaran. Seorang pembohong adalah orang yang berbohong, yang sebelumnya telah berbohong, atau yang cenderung oleh alam untuk berbohong berulang kali - bahkan ketika tidak diperlukan " (sumber : wikipedia-lah)

Pastinya bukan saya aja, mungkin kamu, teman kamu, pernah sekali waktu berbohong. Istilahnya berbohong demi kebaikan. Walau tetap aja salah. Eh, tapi pernah saya dengar dalam sebuah ceramah dari KH Zainuddin MZ kalau berbohong suami/istri yang bertujuan untuk kebaikan itu justri diperbolehkan, malah diharuskan. Misalnya aja nich, yang aku denger dari ceramah beliau itu, ada seorang istri masak untuk suaminya, terus itu masakan keasinan. Nah, waktu istrinya nanya ke suaminya, "Papa, masakannya enak kan?" terus suaminya jawab " enakkkk, tapi lebih enak lagi kalau dikurangi sedikit asin-nya" itu jawaban yang bohong tapi diselipi kejujuran. Karena katanya -ini jangan ditiru ya-"kebohongan yang sempurna adalah menyelipkan sedikit kebenaran"

Nah, kembali ke soal kebohongan , kenapa aku benci banget sama orang yang suka berbohong. Jadi begini. Orang kalau sudah berbohong, pasti akan dan haru kembali berbohong untuk menutupi kebohongan yang sebelumnya. Jadi sekali berbohong maka ia akan berbohong terus.

Ada orang yang berbohong itu menjadi darah daging. Seolah berbohong itu bagi dia semacam candu.

Ah kok jadi ngawur yah..tujuannya tulisan ini bukan untuk curcol kok. Nyampah aja biar blog ku enggak turun terus di google..hahahaha..padahal mah yang baca juga siapaaa ya....

Aku kenal 2 orang pembohong sejati yang dua duanya mengaku sangat respek padaku. Gila ya? ini kontradiktif yang dramatis. Gila, di satu sisi mereka mengaku peduli, tapi justru diwujudkannya dengan terus menerus membohongiku. Wong gendeng kabeh!






Tidak ada komentar :

Posting Komentar