Jumat, Februari 26

The Watcher ( Sang Pengintai)


Pada pagi itu aku terbangun dengan kekagetan luar biasa. Leia adikku, menjerit keras dengan volume suara yang memekakkan telinga. Aku mendapati Leia menangis di depan Smokey, si golden retriever kesayangannya. Ada warna kecoklatan, kukira itu bekas darah yang mengering di sela bulu abu-abu di kakinya yang mungil. Smokey tidak pernah keluar jauh melewati pagar rumah, dan tidak mungkin ada yang melindas dia di jalanan dan meletakkan mayatnya di depan pintu. 

Sambil memeluk Smokey, Leia memandangku dengan wajah basah air mata dan menerangkan bahwa ia mendapati smokey terkapar di atas keset depan pintu rumah, ketika Leia membuka pintu pagi itu untuk mengambil susu yang setiap pagi diantarkan Monis, tukang susu langganan kami. 

"Dia mati Keyana. Darahnya banyak sekali," kata Leia terisak. Aku memeluknya dan menariknya masuk kedalam rumah. Aku tidak tahu harus melakukan apa pada smokey. Kupikir menguburkannya langsung tidak adil bagi Leia. Ia berhak memiliki waktu untuk berduka.
"Apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu tenang, katakan padaku, Aku akan melakukannya sebisaku,"  kataku berusaha menghibur. Meskipun aku tau dalam situasi ini, apapun yang kulakukan tak akan membuat Leia tersenyum seperti biasanya atau secepat yang kuinginkan.
"Kenapa ia mati Keyan? aku tidak mengerti. Dia masih ribut dan mengacak-acak bantal dan selimutku tadi malam, dan aku bercanda dengannya sampai tidur kelelahan. Dan pagi ini dia mati Keyan. Darahnya banyak sekali," Leia menyebutkan kalimatnya berulang. Nyata sekali dia kebingungan. Aku mendudukannya di kursi makan dan berjalan ke dapur mengambil gelas dan membuatkan teh camomile, katanya teh ini memiliki efek menenangkan. Leia meminumnya tanpa semangat. Tapi hangatnya teh itu membuat rona wajahnya perlahan kembali.

Belum pernah kulihat Leia sesedih itu. Apapun yang kukatakan akan salah. Kalau kutawarkan padanya untuk membeli anjing baru, rasanya akan terdengar bodoh. Smokey telah menjadi teman bermain Leia selama 2 tahun terakhir ini. Di saat aku sibuk sekolah dan mencari uang tambahan untuk mempertahankan hidup kami. Leia tidak pernah komplain, meskipun intensitas pertemuan kami tidak lebih dari 3 jam satu hari. Karena ia sudah tidur saat larut malam aku pulang bekerja. Aku sering merasa bersalah. Seharusnya Leia merasakan kasih sayang yang besar karena aku anggota keluarga yang tersisa satu-satunya setelah ayahku dan ibuku meninggal. Leia segalanya bagiku. Adik yang menganggapku tidak sekedar kakak perempuannya, tapi juga sebagai Ibu.

Aku terlambat berangkat sekolah hari itu. Setelah proses penguburan Smokey di halaman belakang rumah yang dilakukan sendiri oleh Leia. Ia tak mau kubantu. Hanya ia sedikit memaksaku untuk menemaninya, setelah Smokey tidur dengan tenang dibalik timbunan tanah. Leia sendiri yang menggalinya, padahal ukuran tubuh Leia termasuk kecil untuk ukuran anak umur 13 tahun. Tapi aku salut dengan usahanya untuk mengangkat sekop dan membuat sendiri makam smokey. (malamnya pada hari yang sama, tanpa sepengetahuan Leia aku membongkar kembali kuburan Smokey dan menggali lebih dalam) karena akan aneh rasanya jika ada bau tidak enak menyeruak masuk dari halaman sampai ke rumah.

Ketika Mr. Jimmy melemparkan kata-kata pedas yang terdengar bagiku seperti sebuah pengusiran dari kelasnya, aku menyerah. Rasanya percuma aku mencoba untuk mengikuti pelajarannya, karena tidak satupun dari kata-kata Mr Jimmy yang sedang menerangkan bagaimana teori pembentukan tata surya, komposisi dan struktur matahari, bumi, dan benda-benda langit masuk ke otakku. Biasanya aku sangat suka pelajaran Astronomi. Meskipun cara Mr. Jimmy menerangkan sangat membosankan dan membuatku selalu harus berusaha menahan agar kepalaku tetap di udara dan tidak jatuh ke meja saking mengantuknya.

Mr. Jimmy, pria tua berkacamata dengan kepala setengah botak dan menerangkan pelajarannya seperti mendongeng untuk anak di sekolah dasar. Dengan suaranya yang menggumam, Ia nyaris membenamkan muka tuanya itu dalam buku literatur. Baginya, internet adalah sumber terakhir yang akan ia gunakan sebagai referensi. Google bukan mesin pencari serba guna, tapi merupakan raksasa  penimbun data sampah yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. Penelitian berdasarkan riset mendalam disertai bukti dan data yang super akurat yang ditulis oleh ilmuwan, kemudian menjadi sebuah buku, nah itulah referensi nomor satu bagi pria tua yang dalam tebakanku usianya sudah lebih dari batas usia seorang guru seharusnya.

"Kalau Anda berpikir pelajaran saya menganggu keinginan Anda untuk tidur, saya tidak keberatan jika Anda meninggalkan kelas ini dan silakan kembali di lain waktu, "ucap Mr. Jimmy langsung memandangku. Aku berdiri lalu berjalan keluar kelas sedetik setelah ia membenamkan kembali wajahnya dalam buku. Angin terasa berhembus ke wajahku begitu membuka pintu. Suhu di luar cukup dingin dan sisa-sisa bekas hujan yang membuat udara terasa lembab. But I love this smell. Aku suka bau hujan. Suka sekali. Bau tanah basah dan titik air yang jatuh dari daun. Rasanya selalu membuatku merasa sedikit melow. Dari kecil aku ingat, aku tidak pernah sakit walau kehujanan sederas apapun. Apalagi kata Ibuku, hujan deras tidak akan membuatmu sakit, justru hujan rintik lah yang akan membuat kepala pusing. Aku selalu suka hujan. Berlari dibawahnya membuatku tenang. Leia tidak pernah kuajak berhujan-hujanan. Leia ringkih sekali. Tubuh mungilnya seperti agar-agar, rapuh. Tidak sekuat aku.

Jadi dalam 24 jam waktuku lebih dari separuhnya kugunakan untuk menjaga Leia. Menjaganya dari apapun yang bisa membuatnya sedih, lemah, apalagi sakit. Aku ingat ayah ibuku dulu tidak pernah begitu heboh jika aku sakit. Bahkan ketika demam sekalipun. Tapi Leia, satu kali saja ia bersin, orang tuaku akan bersikap seolah-olah umur Leia tinggal 1 hari lagi. Sebaliknya aku, entahlah, bakteri atau kuman atau apapun itu yang masuk ke dalam tubuhku tidak pernah membuatku sakit, sepertinya sebelum mereka berinkubasi, antibodi ku menyerangnya dan mereka mati sebelum membuatku sakit.

Aku sampai di tempat kerja dalam keadaan tubuh basah kuyup. Rubi, teman kerjaku, cewek bertubuh mungil yang senang mengganti warna rambutnya memberiku handuk kering. Hari itu rambutnya berwarna pirang dengan ujung rambut berwarna ungu.

"Cepat keringkan badanmu dan ganti baju, si hidung akan datang sebentar lagi dan kita tau dia tidak akan senang melihat karyawannya tampil berantakan," kata Rubi

Aku bergegas pergi ke kamar ganti dan mengeluarkan hair dryer yang sengaja kusimpan dalam locker. Aku bekerja di sebuah restoran Mexico, dengan karyawan yang tidak terlalu banyak namun semua kompeten dan kompak. Si hidung, manajer kami, (oya, kami menyebutnya si hidung, karena itulah yang paling menonjol dari Maikel, itu nama aslinya. Seandainya ukuran hidungnya lebih kecil sedikit, ia akan cukup tampan) Tapi bentuk hidungnya yang besar dan dominan membuat tampannya berkurang. Suatu hari aku pernah mengatakan pada Rubi, kalau Maikel bagaikan  aktor India di Televisi yang hidungnya sedang bengkak. Dan Rubi sukses terbahak-bahak mendengar komentarku.

"Keana, kau diminta menemui Maik sebentar sebelum mulai kerja," Ruby muncul di balik pintu ruang ganti saat aku masih sibuk mengeringkan rambut. Dan menghilang sebelum aku sempat menjawab.

Aku mengikat rambut panjangku cepat. Jangan sampai Maikel menyuruh Ruby dua kali. Aku mengatur nafas sesaat sebelum mengetuk ruang kerjanya. Tak sampai sedetik suaranya menyuruhku masuk.

****

Malam harinya badanku demam.Termometer digital menunjukkan angka 39 derajat. Leia memaksaku meminum obat penurun panas. Tapi kutolak seketika. Dari dulu aku tidak pernah mau minum obat. Kalau demam cukup dengan minum teh hangat panas dan memakai selimut tebal. Sampai tubuhku rasanya seperti sedang di steam. Basah oleh keringat dan besoknya pasti sudah segar kembali. Tapi hari itu tidak. Nafasku panas, kepala begitu berat dan mata berkunang-kunang. Tapi aku setenang mungkin memeluk Leia dan mengatakan kalau aku baik baik saja.
"Mungkin karena kurang tidur dan hari ini aku kehujanan Le, kondisi tubuhku sedang tidak fit. Jadi begini lah aku sekarang. No worries, I will be okay!" ucapku menatap mata Leia dalam. Tapi seperti Leia tau aku berbohong dan sama sekali tidak baik-baik saja.
"Jangan sakit Keyan. Aku tidak sanggup kalau harus kehilanganmu. Hari ini sedihku belum hilang karena Smokey,"
"Ini cuma Flu sayang. Demam tidak akan membuatku mati," aku mencoba bergurau.
Leia duduk membaca novel fantasi kesukaannya di kursi samping tempat tidurku. Sementara aku berjuang menahan kepalaku yang semakin berat. Berdenyut nyeri. Ya Tuhan,jangan sampai kalau aku jatuh tertidur nanti mengigau. Pasti Leia akan semakin tau aku tidak baik-baik saja. Aku paling takut tertidur dalam kondisi demam. Biasanya aku mengigau. Dan saat itu terjadi, aku meracau melebihi orang mabuk. Jadi kupejamkan mataku tapi tetap terjaga dalam kesadaran.

Mataku terpejam tapi pikiranku melayang kemana-mana. Membayangkan saat tadi siang Si Hidung memanggilku dan menyebutkan bahwa kerjaku akhir-akhir ini semakin buruk. Maik mengancam dia tidak akan segan lagi mengeluarkan surat peringatan terakhir jika dalam minggu ini sikapku tidak berubah. Termasuk tidak fokus, sering terlambat datang dan tidak menampakkan keceriaan di depan tamu. Padahal itulah senjata utama untuk seorang waitress. Ramah.

"Panasmu tidak mau turun juga Keyan, sebaiknya kupanggilkan dokter," Leia menyentuh keningku dan bergegas berdiri, menyambar jaket di kursi dan mengenakannya dengan cepat. Leia menghilang di balik pintu sebelum Aku sempat berpikir untuk menjawab apalagi bangkit duduk untuk mencegahnya.

Terasa berabad-abad sejak Leia menutup pintu kamar kudengar lagi suaranya samar-samar. Suara Leia memang masih seperti anak kecil, kekanak-kanakan, karena itu begitu ada suara berat yang masuk dalam pendengaranku sangat mendominasi ruangan dan membuatku berusaha keras membuka mata. Walau tak bisa. Aku merasakan kepala ku sungguh maha berat, tubuhku seperti kaku tidak bisa digerakkan. Kupikir aku sedang mengalami sleep paralysis. Walau aku sadar bahwa aku tidak dalam kondisi tidur. Jadi ini tidak mungkin sleep paralysis. Aku berusaha menggerakkan ujung kakiku, karenanya, dari yang kudengar, jika kau menggerakan ujung kaki akan membebaskanmu dari sleep paralysis.

"Boleh kulihat dimana dia, " suara berat itu terdengar lagi. Astaga Leia, mengapa dia begitu berani  membawa orang asing masuk ke rumah tengah malam begini?

Dan sedetik kemudian dalam beratnya tubuh dan kepalaku pertama kalinya aku melihat Dia, Malaikatku yang Tampan.

Seingatku dia tidak pernah bicara, atau mungkin aku tidak mendengarnya. Entahlah. Hanya yang kuingat telapak tangannya yang hangat menyentuh keningku dan yang kurasakan panas tubuhku seperti terserap keluar dan masuk ke dalam tangannya. Aku tau aku terdengar gila, tapi itulah yang kuingat tentangnya.

Dia tidak memperkenalkan dirinya padaku, tapi Leia menyebutnya dengan Kale.


Tidak ada komentar :

Posting Komentar