Selasa, Januari 5

Bulan Lara : Lingga

Lingga
Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Dhara ia kenal sejak masih memakai putih biru. Dengan wajahnya yang polos dan matanya yang bening sedang duduk di sudut bangku depan perpustakaan. Sebetulnya bukan ia tidak tau kalau satu sekolah sedang membicarakan gossip putusnya Dhara dengan Kenny. Justru karena Ia tau dan itu menggerutu dengan sebal pada dirinya sendiri karena ia tak berani menghampiri Dhara dan menghiburnya. Jadi berdiri diam dan memandang diam-diam dari dalam kelas ke arah perpustakaan. Berharap semoga saja Dhara tiba-tiba menoleh dan balik memandangnya.
Apa saja yang Dhara lakukan bagi Lingga harus dimengerti. Dhara fragile. Baginya Dhara tidak lebih seperti anak kecil cantik yang merengek minta mainan. Dan kalau dipenuhi ia akan sangat manis dan tidak annoying lagi. Dhara tidak jahat. Di dekat Dhara, Lingga merasa jadi orang yang bisa segalanya. Super hero. Walau teman-temannya mengatakan ia super hero bego.
Tapi sekali lagi tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Ia tau Dhara dari ia masih mengenakan seragam putih biru dan wajahnya yang innocent itu tidak seimbang dengan bentuk badannya yang bongsor.
“Musik aja sangar tapi hati boyband lo!!” komentar drummernya.
“Cantik oke. Body oke. Tapi she is freak Man. Gw salut lo bisa sanggup bertahan ngadepin dia. Gw sih ogah. Masih banyak yang ngantri, dari groupies juga bisa nyomot satu,” komentar yang lebih gila lagi.
“Lo ga jelek Man..!” komentar yang sama gilanya.
Tapi Lingga tidak pernah bergeming sedikitpun. Sampai teman bandnya saat itu menyerah, apapun urusan pribadi Lingga, sepanjang tidak menganggu jadwal latihan dan performa mainnya, tidak masalah.
Dan waktu berjalan. Manusia berubah. Ketika Dhara, boneka cantiknya itu juga berubah.  Dhara pergi tanpa permisi. Dengan satu alasan yang membuat Lingga merasa menjadi orang paling bodoh sedunia karena hanya bisa bengong menatap mata Dhara yang bentuknya bagus itu. Saat mengatakan itu mata Dhara benar-benar menerawang. Lingga sempat berfikir jangan-jangan kata terbang itu benar-benar secara harafiah. Dhara memang super imajinatif. Kalau imajinasinya kelewat tinggi, biasanya Lingga langsung tertawa meledak dan Dhara merengut kesal. Obatnya gampang. Tinggal dipeluk saja.
Tapi saat terakhir itu Dhara menolak dan memandang Lingga seolah ia serangga menjijikan yang perlu segera diinjak.
“Aku serius! Aku engga mau sama kamu lagi. Aku pengen putus! Pengen pergi!Bosen. Dengan kamu aku engga bisa jadi apa-apa.Aku pengen terbang tau!!!!”
Dan setelah itu Dhara benar-benar menghilang. Lingga memohon-mohon pada Ibunya untuk memberi tau keberadaan Dhara. Tapi Ibunya hanya menggeleng dan bungkam.
Lingga tidak pernah mendengar kabar Dhara lagi sejak saat itu. Ketika lulus kuliah dan Lingga memutuskan untuk menggantung gitarnya dengan cemoohan teman-temannya. Dari mulai cemen sampai bencong. Lingga menutup telinganya. Bukan karena siapapun ia memutuskan untuk berhenti dari musik. Pun bukan karena band mereka tidak ada kemajuan karena masih dari kafe ke kafe saja, atau jadi band pembuka band-band tak terlalu terkenal yang kebetulan manggung di kota mereka. Bukan karena itu. Meskipun di tengah patah hatinya, tak perduli disindir anak alay sekalipun Lingga memainkan gitarnya seorang diri dengan rokok dan kopi. Dan menyanyikan lagu kesukaan Dhara.
Romance d’Amor

Masih ingat Dhara? Aku masih ingat sekali ekspresi wajah kamu waktu kumainkan melodi klasik itu dengan gitarku dulu. Merinding, katamu. Padahal aku setengah mati gugup waktu itu. Belajar mati-matian gimana cord yang betul. Dan waktu melihat bening mata kamu memandangiku waktu kupetik gitar itu, rasanya semuanya ringan seketika. Bahagia. Sungguh. Aku benar-benar merindukan saat-saat itu. Dhara, masa lalu bagimu mungkin seperti kertas usang yang harusnya dibuang. Bukan untuk dibaca lagi karena warna kertas nya saja sudah membuat mata mu sakit memandanginya. Tapi Dhara, bagiku tidak. Setiap detail bening mata dan ekspresi wajahmu yang menopangku bisa bertahan sampai saat ini. Aku rindu Dhara-ku yang dulu. 

Tidak ada komentar :

Posting Komentar