Lingga
Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Dhara ia kenal sejak masih
memakai putih biru. Dengan wajahnya yang polos dan matanya yang bening sedang
duduk di sudut bangku depan perpustakaan. Sebetulnya bukan ia tidak tau kalau
satu sekolah sedang membicarakan gossip putusnya Dhara dengan Kenny. Justru
karena Ia tau dan itu menggerutu dengan sebal pada dirinya sendiri karena ia
tak berani menghampiri Dhara dan menghiburnya. Jadi berdiri diam dan memandang
diam-diam dari dalam kelas ke arah perpustakaan. Berharap semoga saja Dhara
tiba-tiba menoleh dan balik memandangnya.
Apa saja yang Dhara lakukan bagi Lingga
harus dimengerti. Dhara fragile. Baginya Dhara tidak lebih seperti anak kecil
cantik yang merengek minta mainan. Dan kalau dipenuhi ia akan sangat manis dan
tidak annoying lagi. Dhara tidak jahat. Di dekat Dhara, Lingga merasa jadi
orang yang bisa segalanya. Super hero. Walau teman-temannya mengatakan ia super
hero bego.
Tapi sekali lagi tujuh tahun bukan waktu
yang sebentar. Ia tau Dhara dari ia masih mengenakan seragam putih biru dan
wajahnya yang innocent itu tidak seimbang dengan bentuk badannya yang bongsor.
“Musik aja sangar tapi hati boyband lo!!”
komentar drummernya.
“Cantik oke. Body oke. Tapi she is freak
Man. Gw salut lo bisa sanggup bertahan ngadepin dia. Gw sih ogah. Masih banyak
yang ngantri, dari groupies juga bisa nyomot satu,” komentar yang lebih gila
lagi.
“Lo ga jelek Man..!” komentar yang sama
gilanya.
Tapi Lingga tidak pernah bergeming
sedikitpun. Sampai teman bandnya saat itu menyerah, apapun urusan pribadi
Lingga, sepanjang tidak menganggu jadwal latihan dan performa mainnya, tidak
masalah.
Dan waktu berjalan. Manusia berubah.
Ketika Dhara, boneka cantiknya itu juga berubah. Dhara pergi tanpa permisi. Dengan satu alasan
yang membuat Lingga merasa menjadi orang paling bodoh sedunia karena hanya bisa
bengong menatap mata Dhara yang bentuknya bagus itu. Saat mengatakan itu mata
Dhara benar-benar menerawang. Lingga sempat berfikir jangan-jangan kata terbang
itu benar-benar secara harafiah. Dhara memang super imajinatif. Kalau
imajinasinya kelewat tinggi, biasanya Lingga langsung tertawa meledak dan Dhara
merengut kesal. Obatnya gampang. Tinggal dipeluk saja.
Tapi saat terakhir itu Dhara menolak dan memandang
Lingga seolah ia serangga menjijikan yang perlu segera diinjak.
“Aku serius! Aku engga mau sama kamu lagi.
Aku pengen putus! Pengen pergi!Bosen. Dengan kamu aku engga bisa jadi
apa-apa.Aku pengen terbang tau!!!!”
Dan setelah itu Dhara benar-benar
menghilang. Lingga memohon-mohon pada Ibunya untuk memberi tau keberadaan
Dhara. Tapi Ibunya hanya menggeleng dan bungkam.
Lingga
tidak pernah mendengar kabar Dhara lagi sejak saat itu. Ketika lulus kuliah dan
Lingga memutuskan untuk menggantung gitarnya dengan cemoohan teman-temannya.
Dari mulai cemen sampai bencong. Lingga menutup telinganya. Bukan karena
siapapun ia memutuskan untuk berhenti dari musik. Pun bukan karena band mereka
tidak ada kemajuan karena masih dari kafe ke kafe saja, atau jadi band pembuka
band-band tak terlalu terkenal yang kebetulan manggung di kota mereka. Bukan
karena itu. Meskipun di tengah patah hatinya, tak perduli disindir anak alay
sekalipun Lingga memainkan gitarnya seorang diri dengan rokok dan kopi. Dan
menyanyikan lagu kesukaan Dhara.
Romance d’Amor
Masih ingat Dhara? Aku masih ingat sekali
ekspresi wajah kamu waktu kumainkan melodi klasik itu dengan gitarku dulu.
Merinding, katamu. Padahal aku setengah mati gugup waktu itu. Belajar
mati-matian gimana cord yang betul. Dan waktu melihat bening mata kamu memandangiku
waktu kupetik gitar itu, rasanya semuanya ringan seketika. Bahagia. Sungguh.
Aku benar-benar merindukan saat-saat itu. Dhara, masa lalu bagimu mungkin
seperti kertas usang yang harusnya dibuang. Bukan untuk dibaca lagi karena
warna kertas nya saja sudah membuat mata mu sakit memandanginya. Tapi Dhara,
bagiku tidak. Setiap detail bening mata dan ekspresi wajahmu yang menopangku
bisa bertahan sampai saat ini. Aku rindu Dhara-ku yang dulu.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar