Selasa, Januari 19

Bernegoisasi dengan Alam Semesta

Judulnya aneh tidak ?
Aneh yah. Absurd bahkan.
Tapi kurasa kalian paham. 
Seperti yang kurasakan sekarang ataupun pasti yang juga pernah kalian alami. 
Begini lho..

Suatu hari kita mengalami perasaan buruk, kejadian buruk, atau sesuatu yang kita rasa menyakitkan kita dan dilakukan oleh orang lain dengan sengaja ataupun tidak sengaja. 

Kemudian setelah shock itu kita alami, secara alami kita akan bereaksi bukan?
Entah itu sakit hatikah..
Menangiskah..
Merenungkah..
Atau kemudian terpikir bagi kita untuk membalasnya..
Ah..itu reaksi alami kita as a human being. 
Secara psikologi itu wajar sekali. 

Tapi tips unik yang ingin kubagikan kepada kalian adalah..
Biarkan energi kita yang melakukannya untuk kita..dan hasilnya biasanya baik..
Tubuh kita itu memiliki energi loh..
Memancarkan bahkan..
Dan energi itu yang direspon oleh alam semesta ..
Kekuatannya melebihi 1000 gajah dijadikan satu terus dibantingkan ke musuh kalian.
Kecepatannya melebihi cahaya kurasa..atau mungkin setara..

Pusing ah..contohnya bagaimana ?
Begini.
Suatu hari kamu sakit hati..katakanlah kamu merasa seseorang itu cukup menyakitkan sikapnya kepadamu.
Lalu kamu ingin membalasnya..
Dengan cara apa saja. 
Menulis status menyudutkan di social media
Menulis status penuh kode dengan harapan dibaca dia atau bahkan diberi komen, atau minimal dibaca temen-temannya yang intinya pokoknya sampai ke dia..
Atau menangis..
Menjerit..
Atau langsung menaboknya..

Atau...
Justru semua itu tidak kamu lakukan. 
Yang kamu lakukan justru hanya diam.Tersenyum dan mempersilakan Alam yang melakukannya untukmu.
Bukan alam mbah dukun penyanyi itu ya..

Alam yang bereaksi untukmu..
Meskipun mungkin tidak akan membuat orang yang menyakitimu menjadi pingsan atau mati.
Tapi alam bereaksi sebagaimana kau bereaksi.
Ia akan positif jika kau positif...

Ketika reaksi yang kamu pilih adalah diam dan berdoa semoga alam bereaksi baik atas kebaikan yang kamu lakukan..maka kebaikanlah yang akan kau terima..
Kebaikan dalam bentuk apa?

Apapun itu

Kebaikan yang datangnya dari hasil alami alam dan Tuhan efeknya akan dahsyat..terasa sampai ke tulang sumsum..ke dalam jiwa..dan itu membahagiakan..

Lihat,,,tunggu dan rasakan..





Mekanisme Takdir dan Pemahaman Dangkalku.

Seandainya waktu di putar ulang kembali pun, pasti kita akan berpisah. 
Kenapa ? 
Karena jalan akhirnya harus begini, , 
maka seandainya dulu kita tidak berpisah dan lalu skenario menjadi lain, tetap saja....hasilnya akan membawa kita pada keadaan kita sekarang. 

Taukah kamu ?
Bahwa takdir itu sudah ditetapkan sejak jauh sebelum kita diciptakan. 
Namun jalan cerita menuju takdir itu memang berlainan, 
Path yang kita tinggalkan, yang kita buat, seperti dahan ranting pada sebuah pohon.
Seperti aliran sungai dan cabang cabangnya, semuanya bermuara pada laut. ..
Laut itu sebuah takdir....
Hulu Sungai adalah permulaan kita hidup.
Dan aliran sungai adalah jalan menuju takdir
Dari manapun arah mengalirnya ..
Semuanya akan bermuara pada ujungnya..

Sekali lagi..
Meskipun misalnya dulu kita tidak berpisah.
Allah Maha Tau dan sudah menetapkan. 
Kalau seharusnya kau disana maka kau akan disana
Kalau Aku seharusnya disini, maka aku akan ada disini
Bagaimanapun jalannya..
 
Sehingga jika jalan ceritanya kita buat berbeda pun dari yang telah kita alami dulu, 
Maka pasti akan dibuat jalan cerita lain yang ujungnya akan menempatkan kau disana dan aku disini..

Begitulah pemahaman dangkalku tentang takdir.

Adakah yang mau menambahkan bagaimana mekanisme takdir ?

Rabu, Januari 13

Lagu Hari ini yang Baper Sekali


Dari Dahan yang rapuh..
Usia perangkap kita...
Remaja kita tinggalkan...
Namun....
Aku masih...mengenggam janji..
Tinggal KENANGAN....
Gagal segala impian....
Tinggal Bertanya
Arti Sejati...
Kenangan itu...
Hanya mainan bagimu....

Ada yang ingat lagu ini ?
Generasi sekarang sepertinya tidak akan ingat hiks...karena ini hanya lagu untuk orang yang lahir di tahun 1980 han, dimana masa remajanya adalah 1990-han, which is, ketika lagu lagu Malaysia ngetop ngetopnya, generasi ini sedang remaja, sedang menginjak usia, dimana semua lagu menjadi baper-merujuk istilah anak sekarang.

Lagu menjadi soundtrack kehidupan sehari hari.
Saat bangun tidur...
Saat pergi sekolah..
Saat pergi kuliah..
Saat berorganisasi.
Saat pacaran sambil boncengan sepeda ..eh motor..

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku yang selalu dan terlalu mengutamakan kaca spion di jidatku sehingga aku selalu melihat ke belakang dan sulit move on ?

Somehow aku selalu merasa bahwa tahun 1990 han itu masih selalu terbaik..
Padahal Mungkin bagi yang sudah dewasa saat tahun itu, akan mengatakan lebih damai jaman 1980 han..
Bagi generasi lebih tua lagi akan mengatakan uh..hidup adalah hidup saat sehari hari dansa dansi dengan kekasih di tahun 1970 han..
Nah ya..itu..mundur terus...

Jadi mungkin bukan aku saa di dunia ini yang susah move on..
Pertanyannya bukan tak mau move on.
Tapi kadang melihat ke belakang dan stay sebentar disana adalah cara melarikan diri yang paling baik, di tengah kenyataan hari ini yang kadang agak gimanaa gitu..

Ih tidak bersyukur sekali ya..harusnya setiap hari yang dilalui itu harus penuh rasa syukur , masih diberi hidup sampai hari ini.
Bukan mulekkk aja di masa lalu..
Tidak..tidak..masa laluku penuh dengan drama..
Aku suka aku hari ini kok, semua kusukuri..
Aku melihat kebelakang hanya untuk memenuhi rindu dendam..
Yang kadang datang..karena sebuah lagu ..dan terbawa perasaan.
Ya Baper..

Selasa, Januari 5

Bulan Lara : Lingga

Lingga
Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Dhara ia kenal sejak masih memakai putih biru. Dengan wajahnya yang polos dan matanya yang bening sedang duduk di sudut bangku depan perpustakaan. Sebetulnya bukan ia tidak tau kalau satu sekolah sedang membicarakan gossip putusnya Dhara dengan Kenny. Justru karena Ia tau dan itu menggerutu dengan sebal pada dirinya sendiri karena ia tak berani menghampiri Dhara dan menghiburnya. Jadi berdiri diam dan memandang diam-diam dari dalam kelas ke arah perpustakaan. Berharap semoga saja Dhara tiba-tiba menoleh dan balik memandangnya.
Apa saja yang Dhara lakukan bagi Lingga harus dimengerti. Dhara fragile. Baginya Dhara tidak lebih seperti anak kecil cantik yang merengek minta mainan. Dan kalau dipenuhi ia akan sangat manis dan tidak annoying lagi. Dhara tidak jahat. Di dekat Dhara, Lingga merasa jadi orang yang bisa segalanya. Super hero. Walau teman-temannya mengatakan ia super hero bego.
Tapi sekali lagi tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Ia tau Dhara dari ia masih mengenakan seragam putih biru dan wajahnya yang innocent itu tidak seimbang dengan bentuk badannya yang bongsor.
“Musik aja sangar tapi hati boyband lo!!” komentar drummernya.
“Cantik oke. Body oke. Tapi she is freak Man. Gw salut lo bisa sanggup bertahan ngadepin dia. Gw sih ogah. Masih banyak yang ngantri, dari groupies juga bisa nyomot satu,” komentar yang lebih gila lagi.
“Lo ga jelek Man..!” komentar yang sama gilanya.
Tapi Lingga tidak pernah bergeming sedikitpun. Sampai teman bandnya saat itu menyerah, apapun urusan pribadi Lingga, sepanjang tidak menganggu jadwal latihan dan performa mainnya, tidak masalah.
Dan waktu berjalan. Manusia berubah. Ketika Dhara, boneka cantiknya itu juga berubah.  Dhara pergi tanpa permisi. Dengan satu alasan yang membuat Lingga merasa menjadi orang paling bodoh sedunia karena hanya bisa bengong menatap mata Dhara yang bentuknya bagus itu. Saat mengatakan itu mata Dhara benar-benar menerawang. Lingga sempat berfikir jangan-jangan kata terbang itu benar-benar secara harafiah. Dhara memang super imajinatif. Kalau imajinasinya kelewat tinggi, biasanya Lingga langsung tertawa meledak dan Dhara merengut kesal. Obatnya gampang. Tinggal dipeluk saja.
Tapi saat terakhir itu Dhara menolak dan memandang Lingga seolah ia serangga menjijikan yang perlu segera diinjak.
“Aku serius! Aku engga mau sama kamu lagi. Aku pengen putus! Pengen pergi!Bosen. Dengan kamu aku engga bisa jadi apa-apa.Aku pengen terbang tau!!!!”
Dan setelah itu Dhara benar-benar menghilang. Lingga memohon-mohon pada Ibunya untuk memberi tau keberadaan Dhara. Tapi Ibunya hanya menggeleng dan bungkam.
Lingga tidak pernah mendengar kabar Dhara lagi sejak saat itu. Ketika lulus kuliah dan Lingga memutuskan untuk menggantung gitarnya dengan cemoohan teman-temannya. Dari mulai cemen sampai bencong. Lingga menutup telinganya. Bukan karena siapapun ia memutuskan untuk berhenti dari musik. Pun bukan karena band mereka tidak ada kemajuan karena masih dari kafe ke kafe saja, atau jadi band pembuka band-band tak terlalu terkenal yang kebetulan manggung di kota mereka. Bukan karena itu. Meskipun di tengah patah hatinya, tak perduli disindir anak alay sekalipun Lingga memainkan gitarnya seorang diri dengan rokok dan kopi. Dan menyanyikan lagu kesukaan Dhara.
Romance d’Amor

Masih ingat Dhara? Aku masih ingat sekali ekspresi wajah kamu waktu kumainkan melodi klasik itu dengan gitarku dulu. Merinding, katamu. Padahal aku setengah mati gugup waktu itu. Belajar mati-matian gimana cord yang betul. Dan waktu melihat bening mata kamu memandangiku waktu kupetik gitar itu, rasanya semuanya ringan seketika. Bahagia. Sungguh. Aku benar-benar merindukan saat-saat itu. Dhara, masa lalu bagimu mungkin seperti kertas usang yang harusnya dibuang. Bukan untuk dibaca lagi karena warna kertas nya saja sudah membuat mata mu sakit memandanginya. Tapi Dhara, bagiku tidak. Setiap detail bening mata dan ekspresi wajahmu yang menopangku bisa bertahan sampai saat ini. Aku rindu Dhara-ku yang dulu.