Senin, Mei 2

Senyummu Itu Dinding Antara Aku dan Ketidakwarasan #AADC2


Segala Tentang #AADC2



Ini review film saya yang kedua di blog ini. 

Padahal terpampang nyata saya blogger yang amatiran dan sama sekali bukan seorang kritikus film. Boro boro kritik,pada tulisan ini saya justru akan menghamburkan kata kata memuja Nicholas Saputra.

Yes, setelah 14 tahun berlalu, untuk yang seumuran saya ketika itu tahun 2002-ehm-SMA, pasti akan terbawa perasaan " ini film gw banget," karena masa film itu sendiri berjalan linier dengan kehidupan nyata kita. Secara, para pemainnya pun kurang lebih sama dengan umuran kita waktu nonton AADC1

Dian Sastro lahir tahun 1982 dan Nicholas Saputra lahir tahun 1984, itu menurut Mbah Google yaa. 

Saya nonton #AADC2 pada hari kedua dan ketiga pemutarannya dan itu sangat head to head dengan #CIVILWAR Captain America.

Tahukah Anda pemirsa? Pesona #AADC2 ternyata jauh lebih gemerlap daripada CIVILWAR. Terbukti dari tiket yang soldout dan saya mendapatkan barisan pertama karena antri dari 7 jam sebelum jam tayangnya. 

Sekian prolognya. Masuk ke filmnya eng ing eng...ini spoiler alert yaa.

Dari scene pertama (sampai akhir) bulu di tangan saya merinding semua. Bukan hanya karena tatapan dari My favorit actor Nicholas Saputra yang konon Gay (ARRRGGHH) ini yang bikin meleleh, tapi hampir oleh semua role cast, bikin saya merinding. It was superb! They were amazing! Semua berjalan natural.

Ada beberapa scene yang memang berjalan agak lambat dan sebenernya engga penting juga, kalaupun ditiadakan engga berpengaruh ke jalan cerita. Malah wasting beberapa detik yang sebenernya bisa kepake untuk deleted scene kek atau perbanyak ciumannya Rangga kek. Ups!

Misalnya ketika ada adegan Rangga dan adiknya berdiri di taman, itu engga penting sih. Ngapain buang-buang scene? Mendingan juga buat adegan lain.

Adegan lambat lainnya ketika Rangga mencari rumah Ibunya di Yogya-yang menurut saya-itu lambat. 

Saat Rangga bertemu Cinta..emm menemui Cinta tepatnya, di sebuah pameran instalasi seni or something like that, saat pertama Rangga menyebut "Cinta.."   itu bulu saya merinding lagi semuaaaaa sumpahhh!!


Scene demi Scene selanjutnya dipenuhi adegan Rangga dan Cinta yang rendezvouz berdua sambil exploring Yogyakarta. Eniewi, saya melihatnya kaya Trilogi Before Sunrise,Sunset dan Midnightnya Ethan Hawke, dimana cerita bergulir dan membuat pemirsa mengerti hanya dari dialog-dialog dua pemain utama yang cukup panjang. 

Dialog-dialog Rangga dan Cinta plus tatapan mata yang bikin melting, plus pemandangan Yogya yang belum pernah saya lihat di luar Borobudur dan Malioboro-lah, yang over all membuat saya ketika keluar studio  bilang ke diri saya," Ya Tuhan, apakah ada kenyataan di dunia ini cowok macam Rangga,? di jaman social media edan ini masih ada cowok yang menghujani soulmatenya dengan puisi cinta? 

Dan saya pun menoleh melihat suami di samping yang melengos penuh kebosanan, ughh inilah realita. Tapi juga ups..inilah kenyataan..because he is real. Yeah!!!

Well, enggak terlalu spoiler alert kan yaa? Yang penting saya akan nonton 2 kali dan pasti akan beli DVD nya.  Bukan karena idealis mencintai film Indonesia, tidak, tapi lebih karena tergila-gila dengan sosok Rangga yang diperankan Nicholas Saputra ( WHY ON EARTH YOU WERE GAY!!!??? WHYY ARRGGHH) 

Yang belum melihat, selamat menonton yaa.. dan bersiaplah merinding seperti saya,tapi kalaupun tidak, minimal pemirsa bahagia, karena endingnya?? hmmm...nontonlah :)


Dan saya menonton untuk ketiga kalinya