Jumat, April 12

Apapun Tentang Malang Selalu Membuatku Ingin Pulang

Dari mendengarkan lagu 1990 han sampai soundtrack sinetron atau makanan yang berbau 1990-han selalu akan membuat memoriku terlempar ke Malang dan aku ingin pulang. Karena  almarhum ayahku juga terbaring disana.

Alhamdulilah akhirnya aku sempat pulang bulan Maret 2013 kemarin. Tanggal 27 Maret tepatnya. Sekalian libur Paskah dan ambil cuti. Lumayan kenyang aku di Malang. 

Stasiun Pasar Senen 27 Maret 2013.

Ini perjalanan dan pengalaman pertamaku naek kereta dari Pasar Senin. Sudah jauh-jauh hari pesan tiket agar kebagian. Karena konon katanya, meskipun kereta ekonomi, tapi selalu penuh dan tetap saja harus book dari jauh-jauh hari. Well ya, selain terinsipirasi dari film 5 cm yang kan anak-anaknya semuanya keren tuh, high class, pemerannya at least, tapi kok ya aneh juga naek kereta ekonomi yang harganya cuman gocapan alias cukup 50K. 

Banyak para pecinta alam, penggiat alam, pendaki gunung apalah entah namanya yang berkeliaran di stasiun Senen pada hari itu. Aku yakin bukan karena terinpirasi dari film 5 cm. Memang karena mereka ingin naik Gunung aja dan transportasi yang paling bersahabat either untuk pecinta alam yang masih mahasiswa, atau pun orang kantoran yang ingin coba back packer ya pasti kereta ekonomi Matarmaja jawabannya. Karena kereta ini melewati banyak kota yang menjadi pintu masuk untuk gunung-gunung sepanjang jawa barat, tengah dan timur. Matarmaja sendiri singkatan dari Malang, Blitar Madiun Jakarta.  Sedangkan kota yang dilewatinya seingatku ya, tanpa lihat Wikipedia dan googling dikit sich, tapi aku ingat juga karena Ayahku dulu sering membawaku dari Malang Bandung Malang nyetir mobil sendiri. So jalur utara yang dilewati si Matarmaja ini (kota besarnya aja ya ) Jakarta- Cikampek-Pamanukan-Cirebon-Pekalongan-Solo Jebres, Madiun, Kediri, Tulungagung, Blitar, Malang. 

Oya sekarang PT KAI membuat banyak gebrakan baru yang alhamdulilah cukup menyenangkan buat mereka yang berkantong pas-pasan. Berasa diperlakukan lebih manusiawi. Dari mulai gerbong yang baru, kursi baru sampai WC pun diperbaiki dengan adanya sabun tangan cair dan air yang selalu ada serta lantai yang selalu dibersihkan. Tidak seperti dulu yang baunya setengah mati dna kita harus menahan kencing semalaman dan ngebelain enggak minum karena takut terpaksa kencing di WC yang tidak manusiawi karena baunya setengah mati. 

Tidak ketinggalan AC. Nah yah, inilah point utamanya yang membuat kereta ekonomi terasa lebih memanusiakan manusia. Setiap gerbong kini dilengkapi AC yang meskipun bukan sentral tapi AC Split rumah yang ditancapkan begitu saja dengan kantong kresek di kanan kirinya. Hahahahaha... yah namanya juga usaha PT KAI untuk lebih mensejahterakan masyarakat kelas bawah yang tidak perlu lagi bercucuran keringat dan kipas angin yang membuat kepala pusing.

So, akupun tak komplain. Pertama gara gara terinspirasi film itu tadi, kedua bukan karena tak sanggup naek pesawat toh aku udah bulak balik juga merasakan. Ketiga yang karena udah ngebayangin ngga terlalu menderita karena AC itu tadi hehe...

So, berjalanlah si Matarmaja ini tepat jam 2. Perjalanan diawali dengan kekesalan. Karena aku tiba tiba blank gitu dan nggak inget 1 kresek penuh makanan, tissue basah dan minuman ketinggalan begitu aja. Ugghhhh....rezeki banget bagi yang menemukannya. Yah..kuamalkan...hahahaha...ketinggalan di bangku  ruang tunggu karena aku gugup mengejar kereta. Bayanganku adalah pengaturan tempat duduk yang semerawut dan desak desakan seperti mudik lebaran. Like in the hell pokoknya. Jadi aku blank aja...ngeloyor begitu aja ninggalin a bunch of food ku left behind di bangku ruang tunggu.

Pedagang asongan yang tetap boleh masuk sembarangan, dan menjajakan dagangan mulai dari kaos kaki sampai nasi pecel adalah pemandangan sepanjang koridor dan selama perjalanan. Hahahahah. Sekali lagi aku tak komplain. Yang penting tidak kepanasan dan ada uang. Ahahahaha. 

So, aku tidak terlalu menderita kecuali agak sedikit pegal karena semalaman duduk tegak. Beda sekali uang itu ya sodara sodara. Kalau aku naek pesawat mak wusssss, 1 jam 20 menit sampai deh di Malang. Tapi di kereta ini harus menempuh belasan jam...tapi ada satu kerinduan terhadap beberapa moment yang mustahil didapatkan di pesawat. 

Misalnya :
1. Di pesawat aku lebih sering merasa parno dengan mesin mati, hujan, take off dan landing ban tidak keluar, tergelincir atau...jatuh dan mati. Di kereta...tidak. (padahal bisa juga kalau sudah waktuNya yahhh)

2. Di kereta memungkinkan untuk jajan apa saja, nyobain apa saja, menarik energi dari pemandangan di luar yang notabene bermacam2 di pinggiran rel kereta. Pemandangan dari mulai sawah sampai rumah yang berdempet, (pasti rumah berdempet kalau deket rel kereta mah yahhhh). Dan di pesawat jelas tidak. 


Well yah...dan inilah pemandangan pagi hari yang selalu kunanti setiap aku masuk Malang...biasanya jam 7.30 WIB 


Nah ya walaupun enggak persis banget 5 cm yah...secara  ini taken form Ipad camera yang pixelnya juga cuman berapa, ya maklumlah.

Akhirnya masuk kota Malang pas banget jam 8.30. Karena ini kotaku, aku tak perlu ribet dengan para penjemput. Aku sudah biasa. Jadi langsung hop!naek angkotan kota MM dan langsung aja ke rumah mungilku yang penuh kenangan. 

Day 1. Aku hanya menghabiskan waktu me time dengan my wise mom. Di rumah kecilku yang mungil dengan foto almarhum ayahku bertebaran dimana-mana. dengan suasana Malang yang berhujan hampir setiap hari.

Day 2

Aku pengen ke Candi. Seumur-umur aku di Malang sejak SD dulu, aku belum pernah ke Candi. Ihihihihi. Iya serius. Aku belum pernah ke Candi Singosari. Padahal Singosari kan asosiasinya Malang banget.

Dan Candi ini bisa ditempuh hanya 20 menit naek motor dengan kecepatan sedang. Masya Allah, ini Candi Ajaib, satu satunya Candi yang sekelilingnya perumahan modern :( Tidak dijadikan cagar budaya sehingga tidak ada perlindungan khusus untuk kawasan sekitarnya tidak seperti Borobudur, Prambanan atau candi candi lainnya di Yogyakarta yang emang diniatkan ya... Ini mah ampunn perumahan aja gitu. Padahal Singosari itu asal usulnya Majapahit loh. Dulu ketika Raden Wijaya kabur eh entah kabur entah kalah gitu waktu ada carut marut Ken Arok Kendedes itu, (googling aja deh yah, aku enggak seberapa hafal juga) intinya Raden Wijaya kemudian menepi ke sebuah hutan yang ada buah Maja dan dia mengigitnya kemudian berteriak maja pahit. Jadilah Majapahit yang menguasai dunia ketika itu. Wilayah kekuasaannya sampai ke Mongol. Nah itu asal usulnya dari Singosari yang sekarang reruntuhannya tinggal jadi perumahan Olala!!

Day 3.

Ditemani teman sekolah dasarku aku putuskan untuk kuliner. Sebenernya aku tidak cari bakso/bakwan Malang. Karena sudah banyak bertebaran di mana-mana. Jangankan di Jakarta, di Arab pun kali ada. Cuman memang rasanya enggak pernah sama. Entah kenapa. Katanya karena saosnya bukan dari ubi, atau rasa tahunya yang beda,. Ah Entahlah. Yang kucari adalah tahu bumbu, atau tahu telor kalau orang Malang bilangnya. Letaknya ada di Siswa, toko buku mungil yang padat tempatku mencari buku-buku saat sekolah dulu. Meskipun banyak bertebaran mall-mall besar di Malang sekarang seperti Matos dan MOG, somehow, I miss old Malang. Malang Tempoe Doeloe. Dimana hiburannya cukup alun-alun dengan 3 mall yang berdampingan. Bukan Mall istilahnya. Cukup Plaza. Malang Plaza, Mitra dan Gajah Mada Plaza. Aku sendiri pergi kesana dengan ibuku. Tak perduli mall besar karena sudah kenyang di Jakarta. Dan ah..sensasinya luar biasa. Kangennn sekali. Dan terobati.

Oya ini si tahu bumbu di gerobak mas-mas di siswa itu. Kumakan saat hujan rintik rintik dengan teh panas manis.


Rabu, April 10

Kau Cinta Tapi Tak Bisa *Sigh*





Kemarin aku bertemu lagi..
Di kota yang hidup dalam denyut..
Memandanginya dari jauh aku tak berani
Tidak mudah bagiku melihatnya lagi.
Meskipun ketakutan yang tak perlu kurasa...

Aku tau diri untuk tidak menyapanya lebih dulu
Meskipun sekali lagi itu ketakutan yang tak perlu.
Aku kembali melihatnya dalam balutan fisik yang berbeda,,,

Sekali lagi aku tau diri...
Padahal tinggal selangkah saja kemarin aku bisa memeluknya lagi..
Mungkin sekedar senyum dalam kegagapanku yang biasa...
Padahal mungkin dia pun tidak akan memaksa...
Ah..sudahlah...

Akupun akhirnya pulang...
dengan perasaan bahwa ...
Pintu lama sudah tak perlu kubuka
Cukup mengintipnya sambil tertawa..

Aku lega..sungguh...
Aku tidak lagi perlu untuk masuk kedalamnya dan bercanda