Minggu, April 24

Jendela yang lama..

Ketika jendela lama yang sudah berkarat teralisnya
Dan usil aku menengok ada apa di baliknya...
Tergerai usang ternyata
Tergerus waktu dan debu

Berlelah mencari makna
tenggelam dalam percuma
meski pernah sangat manis rasanya

Tuhan aku tau waktu milikMu
Tuhan aku tau setiap dimensi kuasaMu
dan aku timbul tenggelam dalam lipatanNya

Kepercayaan padaMu padaMu dan padaMu..
Menopangku di permukaan..
aku tak tenggelam

Senin, April 11

Rumah Hantu itu Menenggelamkanku

CHAPTER I, TAMU BARU

Sebenarnya ini bukan novel. Bukan juga cerita ilmiah. Bukan Jurnal bukan pula artikel. Jadi apa dong?

Ini sekedar coret coretan bermakna, well, kuharap memang bermakna. Dari Aku yang udah lama banget mengkhayal pengen menulis biografi tentang diriku sendiri. Karena secara selama ini aku kenyang dan hampir muntah menuliskan cerita hidup orang lain yang entah benar entah tidak. Kebanyakannya aku bumbui sendiri biar rame dan aku banyak dapat fee.hihihi

Jadi menuliskan tentang ini kisah kasih, eh ini kisah nyata, memang sudah lama sekali ingin kulakukan. Hanya waktu dan mood nya susah sekali Aku dapetin. Mood untuk menulis itu luar biasa susahnya. Setidaknya mood untuk nulis novel atau cerita ku sendiri...(Kalau untuk menulis artikel sehari hari, rasanya suicide kalau aku depend on my mood, secara pekerjaan ku di bidang ini)

Jadi dengan mood yang akhirnya tertangkap dan juga berdasarkan 30 menit sisa waktuku hari ini karena kebetulan aku bisa menyelesaikan pekerjaan 30 menit lebih cepat setelah menulis artikel dari NYAMUK SAMPAI SEMANGKA diakhiri LAPORAN YANG MENYEBALKAN, akhirnya bisa juga aku dapatkan waktu untuk menulis kisahku sendiri...

Pertama aku menginjak rumah hantu itu, Well, waktu itu absolutely aku engga tau itu rumah ada wewe gombel, kunti, jin dan teman-temannya. Lha wong aku baru kelas 5 SD. Jadi pikiran apa sich yang ada di benak bocah umur 11 tahun, yang belum semaju bocah bocah ber blackberry and Ipad sekarang..?

Untuk ukuran anak-anak, aq termasuk berani karena engga minta ditemani tidur oleh Ibuku. Padahal di rumah yang relatif besar dengan arsitektur Jawa Belanda itu cukup besar dengan 4 kamar di dalamnya. Dan sewajarnya anak kecil biasanya tidur minta ditemani...

Karena satu dan lain hal aku engga punya lagi file foto rumah bersejarah ini. Yang pasti kira kira bentuknya seperti ini. Tapi kurang lebih ya...mirip dech.. sereman rumah bersejarahku soalnya hehehe..(AKU PUNYA SAUDARA SAUDARA, SETELAH PULANG BULAN MARET TAHUN 2013 INI, DENGAN NEKAT KUFOTO RUMAHKU DULU YANG ENTAH SEKARANG SUDAH JADI MILIK SIAPA, UNTUNG TIDAK ADA ORANG DAN AKU TIDAK DISANGKA MALING KARENA SEMBARANGAN FOTO FOTO TANPA IZIN SEREMM YAAA...MASIH ANGKER SEPERTI DULU..LEBIH MALAH INI DIA)

Btw, kulanjutkan lagi, memang rumah dengan tipe-tipe seperti ini, selalu bikin aku rada gimana gitu. Jangankan rumah kuno. Rumah biasa aja, kalo bagi penglihatanku serem ya serem...kemampuanku untuk "merasakan" dan 'melihat" apa yang engga bisa dilihat orang emang bikin aku rada ribet kalau melihat sebuah objek.

Kembali ke cerita...

Untuk ukuran bocah 11 tahun, di rumah sebesar itu..aku termasuk berani. Dan dengan cueknya aku minta di kamar yang paling depan yang paling gelap. Yang berdekatan dengan gudang, yang jarang dan tak pernah terkena cahaya...

Rumah ku itu....

selain kurang lebih kuno dan besarnya sama dengan yang ada di gambar, tegelnya (tile) dinginnnnnnn banget.. bercampur antara hitam bening dari granit yang keras dan warna kuning. Kalau ibuku menyuruh aku ngepel lantai, sekali srutttt aja dengan gaya jongkok dan kutarik mundur si lap pel ke belakang itu lantai langsung bersih... enggak perlu pake super pel dan dikipas kipas pake kardus kaya di mall mall. Langsung bersih dan bening dan harum...Tanpa sabun super pel atau wipol berlebihan. Cukup air saja. Meski ibuku seringnya memakai super pel warna ungu aroma Lavender yang entah kenapa kuterapkan di kosan ku sekarang wanginya tak pernah sama dengan rumah itu...dengan wangi nya sentuhan Ibuku yang mulia hatinya...(mam, sambil menulis bagian ini kok ya pas windows media playerku memutar lagu Ibu dari Iwan Fals, jadi weh nangis...whoaaaaa......:'(

Jadi, gambarannya sudah pada lantai ya...sekarang beranjak pada bangunannya.. Bangunan rumah Jawa jaman Belanda...atau jaman apa ya,..kira kira jaman Belanda lah mengingat itu rumah memang terlihat kuno diantara rumah lainnya, dengan jendela yang besar-besar seperti ini. Rumahku itu letaknya di gang..

Dalam gang tapi jangan dibayangkan seperti gang kumuh di Jakarta dimana satu rumah lainya berdempetan. Oh No!

Gang kampungku bersih, kanan kirinya berjejar pot bunga. Nah, rumahku ini berdiri dengan gagahnya di pojok gang yang bercabang, jadi nyingkur gitu lah (nyingkur teh bahasa Indonesianya: memojok hihihi)

Antara rumahku dengan tetangga sebelah kiriku persis dihalangi oleh gang kosong yang oleh ibuku sering dijadikan tempat jemuran plus juga tempat ia membakar bakar sampah, karena hobby ibuku memang membakar sampah hihihi..sampai suatu saat hampir kebakaran hihihi...Ah nanti saja ini terlalu jauh..

Rumah no 94 itu bercat hijau. Maklum. Warna yang sangat norak dan menyatakan betul identitas pemilik sebelumnya yang seorang tentara. Teralis besi yang tinggi-tinggi dipasang di hampir semua jendela. Jendelanya di depan pintu ada 2, jendela yang besar, namun tampak suram karena terhalangi pohon jambu batu lebat yang dengan cueknya ditanam pemilik lama, sehingga jika dilihat dari depan makin tidak karuan. Daun-daunnya menjuntai menutupi jendela rumah.

Pintu pagar rumahku yang terbuat dari besi (rata-rata emang dari besi ya?hihihihi)kalau hendak membuka atau menutup harus dicantelkan (bahasa Indonesianya apa?) dikaitkan begitu ya, dan harus dengan sekuat tenaga karena sudah berkarat. Lagi lagi yang biasanya sukses menggemboknya hanya Ibuku, karena setauku dari kecil, Ibuku adalah perempuan hebat sedunia, yang paling kuat fisik mentalnya tak tertandingi. Itulah Ibuku.

Aku sendiri sering tak perduli untuk menggemboknya, secara masih kecil dan belum terlalu concern akan masalah keamanan atau sejenisnya. Tapi yang kuingat setiap pintu besi itu terbuka derit nya mirip game horor kesukaan ku dan kakakku tersayang, silent hill...srett...cekitttt begitu bunyinya

Konon, kalau masuk ke sebuah rumah, ternyata kau merasakan sejuk, adem, meski tanpa AC, katanya rumah itu terberkati,dilindungi Allah, dikunjungi Malaikat, apalagi jika penghuninya selalu mengaji. Aamiin.

Nah masuk ke rumahku juga dingin. Tapi dengan catatan dingin ya..bukan sejuk. Dinginnya tuh kira-kira campuran antara hawa dingin Malang yang lembab tapi kering dan dingin karena ada "sesuatu" yang emang dingin.,.. Nah loh gitu lah gambarannya...

Karena rumah dahulu atapnya tinggi, sirkulasi udaranya sehat. Jadi tidak bisa dikatakan pengap. Ruang tengah selalu terkena cahaya matahari yang masuk dari jendela samping. Karena jendela depan tertutup si juntaian pohon jambu tadi.

Tapi..hanya kamar depan dan yang kutempati lah satu satunya kamar yang gelap..selalu gelap. Sudah letaknya berdempetan dengan Gudang, dekat dengan ruang tamu yang tertutup pohon jambu dan si pohon mangga yang meski kecil tapi sampai detik ini bagiku tetap menyeramkan. Dan ironisnya bocah kecil gendut yang polos dan hobby menulis alias aku inilah yang memilih kamar itu untuk kutiduri selama 5 tahun lamanya.

Oya FYI , beberapa saat setelah kami pindah masuk ke rumah itu, anak-anak kecil enggan lewat depan rumah nomor 94 bercat hijau norak itu. Kenapa? karena pemilik sebelumnya baru saja meninggal. Lah meninggalnya wajar atau tak wajar aku tak pernah konfirmasi. Intinya anak anak pasti memilih jalan memutar kalau hendak pergi ke mushola. Padahal, jika lewat rumahku jaraknya lebih dekat. Tapi mereka lebih memilih berolah raga sedikit alias memutar daripada lewat rumahku.

Yang kuingat betul setiap bulan ramadhan, dan pulang tarawih, kalau terpaksa betul lewat depan rumahku mereka akan berlari sekuat tenaga dan anak perempuannya menjerit jerit karena dikompori anak laki laki yang berteriak "ndas ngglundung...!!ndas ngglundung!!!" artinya kepala menggelinding..

IH AKU SAMA SEKALI ENGGAK PERCAYA KALAU BAGIAN KEPALA MENGGELINDING INI...lagipula aku termasuk orang yang percaya adanya alam lain, makhluk lain, tapi hanya berupa energi...energi yang sama seperti kita....saling tarik menarik...tapi mereka tidak mungkin memvisualisasikan bentuk mereka seperti yang kita lihat di film2...So..apalagi dalam bentuk kepala menggelinding seperti itu.

Tapi....

Yang menganggu pikiranku saat ini, jika aku menerawang lagi ke masa itu...adalah wajar jika mereka berteriak...bagaimana tidak...?

Bagian yang paling menyeramkan di bagian rumah ini belum aku ceritakan...

Sebenarnya, di bagian dapur, dengan pintu kayu yang diberi palang dari kayu pula...(Ibuku sering membuka si pintu berpalang ini dan malam-malam melihat bintang dan bulan sehabis sholat tahajud)si pintu berpalang ini menghadap ke halaman belakang dimana ada pohon Jambu air...(jadi ada 3 pohon totalnya, jambu bangkok di teras depan dan pohon mangga, di belakang jambu air, pantes banyak hantu!!!)dan dibawah si pohon jambu air ini ada sebuah lubang. Kutanya ibuku lubang bekas Apa Mam? dan Ibuku menjawab "Mungkin bekas sumur"

Well...si lubang itu kecil, ditutup potongan batu. Tapi demi Tuhan, dalam sekali...cahaya matahari yang jelas menyorot pun membuatku hanya bisa melihat dasarnya samar-samar. Karena memang aku sering membuka lubang itu dan iseng-iseng (lagian ngapain juga ya...buka buka lubang...bisa aja ada ada sadako muncul) melihat ke dalam lubang itu dan membuang "sesuatu" ke dalamnya.

Nah "sesuatu" ini lah yang kupikir akar dari semuanya..

Membuang sesuatu yang masih kulakukan sampai sekarang. Tapi tak mungkin kupublikasikan di forum ini.

Bukan narkoba lah..jelas...tp lebih ke yang sangat pribadi. Wanita pasti tau....nah tau kan...nah ya itu...sesuatu itu tidak kucuci. Langsung bulat bulat kubuang begitu saja ke dalam sumur.eh si lubang bekas sumur itu...

Nah di halaman belakang tempat si pohon jambu air dan si sumur ini berada dikelilingi tembok yang tinggi menjulang yang memberi kesan seram. ini fotonya sumur itu dibawah si pohon-pohon.Inilah mungkin salah satu sebab yang membuat anak anak sering berlari begitu melewati rumahku...karena kesan yang tertangkap penuh misteri...mungkin ya...ada apakah gerangan di balik tembok itu.






Rahasia Ibuku

Maunya cerita ini berurutan, dari tahun ke tahun seiring usiaku dari sejak tinggal di rumah edan itu sampai detik aku menulis ini. Tapi aku yakin sekali bukan jadi blog yang menyenangkan tapi akan jadi buku biografi membosankan dan menyebalkan seperti yang biasa kutulis untuk para klien yang menghire aku jadi ghost writer mereka.

So, aku akan skip bertahun tahun dan akan ku buat falsh back saja, macam slide slide dalam power point yang menampilkan sekilas info dan jika ingat akan kurangkai sedemikian rupa sampai nyambung lagi.


Yo wisss....balik lagi ke sub judul...Rahasia Ibuku...

Well, suatu saat Ibuku dengan polosnya, karena memang sifat ibuku ini unik, netral, cuek, dan sering tidak menyadari bahwa efek celetukannya akan berakibat domino dan tsunami bagi yang tidak siap mendengarnya. Tapi itu Ibuku dulu, Ibuku sekarang masih sama namun jauh lebih bijaksana dan kupuja. Satu persamaannya, Ia tidak pernah complain...tidak seperti Aku..Miss Mengeluh...

Nah dengan polosnya Ibuku bercerita sambil makan malam (entah makan entah nonton tv aku lupa) saat itu aku SMU (kebayang enggak berapa tahun aku skip cerita ini, dari bocah 11 tahun ujug ujug SMU) dia bilang yang pada intinya mengatakan bahwa di kamar yang kutempati sebenarnya berhantu..(Mam...kenapa kau tega sekali hihihihi bertahun tahun baru cerita kalau justru di kamar itulah sebenarnya perkumpulan makhluk yang tak berwujud tapi "terasa" itu berkumpul...ugh..Mam...pernyataan kau sekarang semakin membuat ku harus di ruqiyah hihihihi.)

What?!!
"Berhantu gimana?"tanyaku dengan tangan gemetar. antara campuran dingin, takut dan kesal. Masih dengan cueknya Ibuku menjawab, yang pada intinya beliau tidak pernah bercerita padaku karena bukan karena tidak ada kamar lain. Karena ketika aku minta kamar terpisah itu, dia bingung ingin menempatkanku di kamar mana, sedangkan kamar utama tempat orang tua menyatu dengan ruang sholat. Kamar terbesar dihuni kakakku di bagian paling belakang (padahal biasanya bagian belakang rumah paling menyeramkan ya, dalam film film!Ini mah kebalik, kamar kakakku justru bertaburan cahaya. Tapi ah sebenarnya...Ah nanti saja ceritanya)

Jadi kamar satu satunya yang tersisa ya kamar depan dekat gudang itu. Ibuku tau tapi tidak kuasa mengatakan pada anak kecil seumurku (11 tahun). Ibuku bercerita dia "tau" dan "merasa" bahwa di kamarku dan di ruang tamu yang tertutup pohon jambu itu ada si onyon...eh ada sesuatu.

Bahkan saking gelisah dan resahnya namun anak-anak nya dan Bapakku tidak bisa diajak berbicara, akhirnya Ia curhat ke Ua-ku, kakak tertua ibuku. Dan dengan sigapnya langsung mengirimkan puluhan ayat sakti..eh suci untuk dibaca oleh Ibuku. Jadi ibuku berpraktek semacam ghost buster begitu..

Nah berhasil apa tidak Ibuku mengusir penghuni itu atau tidak itulah pertanyaan yang paling penting dan mendasari semua persoalan dan akar masalah keanehan yang menenggelamkanku ini

Sampai detik ini pula Ibuku tidak pernah jelas menjawabnya. Pertama karena jelas ia bukan ghost buster, yang kedua Ia tidak sepeka dan tidak bisa "melihat" seperti aku....

Yang pasti katanya, suatu saat setelah sholat dan akan mengucapkan salam, ia merasa begitu beratttttt, yang membuatnya susah sekali untuk menoleh karena ia merasa di belakang kirinya ada yang melihatnya dengan tajam..bentuk dan wujudnya ibuku tidak mampu menggambarkan, mungkin saking tak beraninya melihat karena ia yakin kalau ia membua mata ia akan melihat apa yang tidak mau ia lihat.

Pernahkah kau merasa seseorang sedang memperhatikanmu, meskipun kau tidak melihatnya langsung dengan kedua matamu, tapi hanya sudut matamu saja? Tapi kau merasa ada yang sedang melihatmu? Nah itulah gambaran kira kira Ibuku...tak berani membuka mata karena yakin ia tidak sanggup melihatnya. Ibuku terus membaca doa dan tak menoleh ke sudut itu...antara pohon jambu dan ruang tamuku...Ibuku sholat di dalam kamarku,mungkin sebagian dari ritualnya sebagai ghost buster hihihi...

Dan di ruang tamu itu, di kamarku yang selalu gelap tanpa cahaya itu.... Disitulah ibuku tersayang dan yang paling kuhormati sedunia melihat si hantu belau itu. Yang justru ironisnya kutempati bertahun tahun lamanya.

Itu dari perspektif ibuku. Kalau aku sendiri gimana?

Bersambung Ah..aku mau pulang sudah magrib...dan mataku mulai kunang kunang...


Jati Diri yang Tidak Dicari

Kalau orang sibuk mencari jati diri pada masa masa katanya sekitar yah...usia belasan..mungkin sekitar umur 13-18 begitu ya..
Masa labil, emosional, mempertanyakan ini dan itu, membantah ini dan itu, menyangsikan ini dan itu serta menggampangkan ini dan itu..

Well, kalau aku wah semua hal tersebut masih kulakukan sampai detik ini..hihihi
Wah berarti sampai setua ini aku belum menemukan jati diri duonk?

Tidak...itu manusiawi as a human being, sebagian dari kita pasti perna melakukan dan mempunyai sifat sifat di atas...

Yang kumaksud aku tidak mencari jati diri karena memang aku sudah menemukannya sejak kecil...


Since i was kid, aku sudah tau apa yang aku mau...Aku mau jadi reporter, pembaca berita, penulis pokoknya segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia jurnalistik.

Jadi tanpa kusadari pola hidupku sudah kurajut sejak dulu...Aku tau mesti kemana bagaimana dan dari segi pendidikan harus bagaimana dan kemana...


Tapi...

Di luar segala cara resmi dan logika itu...

Yang paling mengesankan ku (yeee GR banget, kepedean dsb) adalah supporting sistem otak dan jiwa ku mendukung sekali untuk mewujudkan cita citaku jadi penulis yang walaupun belum kaya tapi setidaknya aku bisa hidup...

Aku imajinatif,

Aku suka menulis dan diary ku dari SD sampai kuliah tersimpan rapi dalam kardus sampai kertasnya berubah warna...


Tapi karangan tentang rumah ini bukan imajinasi belaka
sungguh
Aku merasa akar permasalahan yang membentuk Aku menjadi Aku yang sekarang adalah karena rumah itu...


Kenapa aku sering berbicara sendiri?
Kenapa aku sering sekali bercermin dan berbicara seolah olah aku dua?
Kenapa Aku senang sekali berbicara pada aku yang lain seolah dia sangat hidup

Kalau ia teman imajinasiku, bukankah menghilang saat aku akil balig?
Tapi Ia tetap ada sampai detik ini..
Ia hidup sekali...
Kenapa...

Hampir setiap hari sampai detik ini, di saat aku merasakan sesuatu yang buruk, bad mood, berantem, baik sama setan atau manusia :) kesel sedih atau segala hal yang negatif pasti divisualisikan dalam mimpiku berupa rumah itu..kamarku itu, pojok ruang tamu itu dan pintu berpalang yang menghadap halaman belakang itu..

Sudah belasan tahun kulewati masa sejak aku terakhir menginjak rumah itu...Tapi sampai detik ini segala sesuatu yang buruk pasti dalam mimpiku rumah itu menjadi setting utamanya...

Anehnya, aku kecil, aku ABG sampai aku sedewasa hari ini, aku selalu berada dalam rumah itu....tidak pernah keluar...berputar putar saja. Kulawan dengan segala ayat yang mendadak macet kalau kubaca (suka begitu kan kan mimpi dikejar setan?) sampai aku meraung2 menangis pun aku tak bisa keluar dari rumah itu...

Kecuali aku mendadak terbangun...

Air Terjun dan Aku


Duduk di sekolah dasar kelas 6 SD ketika itu...pertama kalinya aku diajak rekreasi keluar sekolah dengan teman teman sekolahku yang baru..Perasaanku senang...karena perasaan bocah kecil yang keberadaannya semula dianggap aneh dan tak wajar di lingkungan yang baru kumasuki.

Bayangkan saja, lahir dan besar di Bandung, dengan segala macam eksistensinya, aku tiba tiba harus pindah ke kota baru...yang tidak pernah ku tau bahkan di peta sekalipun. Tapi pikiran bocah SD macam aku tak macam macam.Mendapat teman baru pun sudah cukup. Berpisahlah aku dengan teman temanku di Bandung yang kukenal sejak aku lahir dan pindah menuju lingkungan baru yang sama sekali asing

Kalau sekarang kuanalisa kondisi seperti ku seharusnya bukan hal yang aneh. Anak tentara, diplomat, polisi, atau anak siapa lagi lah yang pekerjaan bapaknya mengharuskan pindah pindah tugas, kerja atau ditugaskan, pasti anak -anaknya ikut pindah juga.

Jadi akupun ikut saja. Tanpa banyak bertanya. Walau sesungguhnya banyak kesedihan yang tak pernah terungkapkan dan menyesakkan yang membentuk pribadiku sekarang.

Ini bukan curhat colongan. Sekali lagi seharusnya dipandang dari sisi positif psikologis seorang anak yang tercerabut dari lingkungan yang kondusif kemudian ditempatkan di lingkungan yang sama sekali baru tapi mau tak mau harus dijalani karena tidak bisa berbuat apa-apa.

Dimusuhi? dianggap aneh? anak kota besar masuk kota kecil..heheh dulu Malang masih kota kecil sekarang udah jadi kota terbesar kedua di Jawa Timur yaakkk pisss

Dimusuhi, dianggap anak aneh yang bahasanya tak sama dengan mereka..
Tapi itulah aku, mungkin karena pengaruh sisi something di dalam diriku yang entah bagaimana bisa membantuku...Saat aku tidak diajak bicara teman teman baruku, aku bicara sendiri saja dengan teman khayalanku..

Ah singkat kata proses adaptasi yang luar biasa kulakukan sendiri..

Singkatnya pula aku akhirnya berhasil tune in dengan mereka dengan segala caraku..

Sampai suatu saat aku diajak mereka ke air terjun itu...

Aku senang sekali...pertama kalinya keluar dengan teman teman baru yang judes dan juteknya minta ampun itu akhirnya kami bisa bersama sama..

Lokasinya d Batu...kota administratif, kota satelit, atau apa ya istilahnya kota dalam kota gitu lah, soalnya dia lebih besar dari kecamatan, tp bukan kota utama. Semacam tangerang dekat Jakarta, atau Bekasi gitu..

Tapi ini kota sangat dingin dan bagiku yang kebetulan menyukai Gunung, aku suka suasanannya, udaranya, dan aura nya...di setiap tempat aku selalu merasakan energi...

Pertama kali melihat air terjun di daerah ini dan pertama kalinya dalam hidupku, karena ketika di Bandung aku otomatis tak pernah kemana mana karena masih sangat kecilnya aku..
seperti yang terlihat dalam gambar ini. Bagi mereka yang melihatnya dengan biasa berpikir biasa dan hanya melihatnya sebagai objek saja, air terjun ini tidak berarti apa-apa. Sangat biasa. Bahkan mungkin lebih banyak yang indah dari ini


Tapi Aku tidak...
Tak kudengar guruku menerangkan mengapa bisa terjadi air terjun. Proses terbentuknya dan sebagainya. Aku justru lebih menaruh perhatian dan sanat tertarik legendal di balik si coban (bahasa jawa untuk air terjun adalah coban)

Konon katanya di bawah air terjun ini ada sebuah Gua, dimana di gua ini tinggal seorang putri yang cantik karena suaminya mati bertarung dengan lelaki lain yang hendak merebut si putri.

Namanya juga dongeng, legenda, mitos, ia ada untuk menerangkan kepada mereka yang senang memahami dari sudut pandang non ilmiah..

Aku ingat saat teman temankecilku tak ada yang berani terjun untuk berenang, aku lepas sandal dan langsung berani bermain ke tengah..

Tapi aku tak ingat apa guruku ikut nyebur atau tidak yang pasti Aku hanya ingat aku berteriak teriak kesenangan bermain di bawah air terjun itu. Padahal bahaya. Tapi aku senang sekali. Ada perasaan tak tergambarkan. Lagi pula tidak terlalu ke dalam, aku masih bisa menginjak bebatuan. Namun untuk anak anak seumur itu, tidak ada yang berani berenang. Paling hanya bermain di pinggirnya saja.

Di Kamar itu Semalam

Seperti yang aku bilang sebelumnya. Aku akan buat mini story ku ini sesuka suka ku..hehe..walau maksa orang lain baca secara aku udah tag tag gin ya... Tapi anyway kalau keberatan di tag ya sudah di remove saja...

Semalam, aku mimpi, dan seperti biasa..kalau sedang gelisah, setting tempat nya pasti rumah ijo norak berhantuitu...

Tapi, waktu nya berjalan...Aku tetap aku yang sekarang..dengan semua orang orang yang pernah kutemui dan berinteraksi dalam hidupku..

Tapi orang orang baru ini, kalau sudah berinteraksi denganku dan kubawa ke dalam rumah itu dalam mimpiku, sudah dapat dipastikan, di ketok palu,,legitimated, pasti orang itu dan aku akan berkonflik ria...

Apa coba sebabnya?

Lah justru itu pertanyaaanku seumur hidup..

Seolah olah energi dalam rumah itu tak pernah melepaskanku keluar...

Ya Allah sampai kapan?

Air Terjun dan Aku 2

Kenangan mengenai rekreasi ke air terjun itu benar melekat di benakku. Karena aku senang menulis, terinspirasi dari senangnya aku di air terjun itu aku bisa menulis 1 cerita pendek yang meskipun di tolak oleh majalah/penerbit, tapi aku senang sekali, karena di redaktur memberikan komentar tulisan tangan dibawah naskahnya...

Dia bilang: cerita oke, judul kurang menarik! hihihi..(padahal mah ganti we judul teh, maklum sama anak SMP!, dasar kehed!)

Jadi naskah cerita itu memang tidak pernah terpublikasikan..tapi ibuku membacanya, dan komentar; bagus katanya. Pertama karena aku anak gadisnya, masa dia menjelekkan anaknya sendiri. Yang kedua dia emang rada kurang suka baca hihihi.

Aku ingat sekali : nama perempuannya niken..nama lelakinya aku lupa..intinya percintaa antara hantu dan manusia...

Astaga....padahal umurku masih 13 waktu itu....mengirim cerita ke majalah remaja dengan tema yang menurutku agak radikal untuk anak ukuran seumuranku waktu itu...anak dulu kan belum se global sekarang pikirannya.

Sabtu, April 2

Laptopku Jungkir Balik

Tak pernah kutau artinya merindu.....
Namun kau selalu di mataku....
cepatlah kembali,,,,kau...telah lama pergi
tinggalah bayangmu di dalam lamunanku.

Dengan laptop yang terjungkir balik begini pun aku masih senang menulis
Senang sekali aku menulis
Padahal aku tidak tau apa yang kutulis
Padahal aku tau aku hanya mengganti diary dengan notebook ini
Tidak ada makna yang dapat dipungut dan dicerna orang lain kecuali aku sendiri

Tapi memeluk laptop yang terjungkir balik dengan keypad yang luar biasa enak begini aku sudah terobati
rasanya berbagai macam pikiran yang berseliweran astaga bahasa apa ini? berserabutan di pikiranku berebut ingin keluar dan kutuliskan melalui dua jariku..karena dari dulu aku menulis dengan sebelas jari alias dua telunjuk meski kecepatannya sama dengan mereka yang dulu kursus mengetik sepuluh jari,,,

saat menulis begini intinya tertemani..bahasa apa lagi ini...merasa tak sendiri meski kenyataannya begitu..
Ada sebuah proyeksi...aduh ngomong apa sich
biarin ah blog blog ku sendiri ko mau ngomong apa terserah yang penting aku ingin begini