Senin, Desember 27

Trip Penuh Emosi ke Ujung Sukabumi PART ONE


Jumat,24 Desember 2010

Jam. 4.30 am

Tiba- tiba aja kepikiran mendadak, karena seperti biasa aku orangnya sangat suka mendadak dan impulsif, pengen ke Pantai...padahal semua orang tau aku engga suka Pantai.


"Yakin kamu berani ke Ujung Genteng Di," tanyaku ke adik sepupu. Dia sich oke aja. Secara sangat suka runaway juga sama seperti aku kalau lagi ingin menghindar dari masalah, or, kalau lagi sangat merasa jenuh. Sama-sama suka runaway dan bukan menghadapi masalah, dan sama-sama BERANI! Ini yang perlu digarisbawahi.

Akhirnya jam 5 subuh Jumat tanggal 24 dimana malamnya holy night itu, dengan cueknya, hanya pake sendal jepit, celana pendek, jacket dan ransel dengan baju asal masuk, aku pun pergi. Kepalaku tanpa rencana. Isinya hanyalah "kumaha engke lah", a.k.a gimana nanti aja. Lagipula, anggie terbiasa hidup dengan kata gimana nanti...

Sepupuku semangat sekali, mungkin karena dia belum pernah ke Ujung Genteng xixixi, padahal aku juga
belum...bahkan engga pernah terlintas sama sekali tadinya, kan udah dibilang sangat benci pantai.

Akhirnya setelah sambil mikir di jalan naek apa, kita memutuskan untuk naek kereta aja. Alasannya, pertama, biar ada variasi, secara katanya ke Ujung Genteng bakalan berbelas-belas jam, kedua, bis yang langsung Jakarta-Sukabumi se subuh itu belum lah ada. Jadi dua sepupu ini pure backpacker dengan naik turun angkot dan kereta.

Gambir

Kereta kebagian jam 7.44 am. Setelah tengak- tengok (bahasanya selain tengak tengok apa coba?) kami memutuskan naek Pakuan Express, soalnya AC ekonomi adanya siang *padahal mah ga tau jam berapa*. 

Setelah juga memaksakan mata untuk tetap melek (even sepupuku akhirnya jatuh nge-gelesot (apa ya bahasa yang keren...semacam tergeletak begitulah) di stasiun, dan aku menghabiskan satu cup kopi yang rasanya amit-amit ga enak dan harganya mengerikan pula, jam 7.44 pun datanglah

Udah lama aku enggak naek Pakuan...tahun 2007 terakhir...jadi ada rasa kangen lagi...


Di dalam kereta habis-habisan ketawa. Untuk mengusir rasa ngantuk, setiap orang yang lewat kita komentarin, soalnya emang aku dan sepupuku sangat suka mengomentarin orang *padahal kita juga sama sekali ga perfect* tapi rasanya bikin ketawa aja liat expresi orang yang lucu, at least dalam benak kita loh yah...

BOGOR

Jam 8.44 nyampelah kita ke Bogor...ngantuk luar biasa. Tapi tetap dengan jiwa "kumaha engke" kita melanjutkan langkah

Di bogor sepupuku ribut ingin foto. Ya foto sajalah. Padahal aku udah ribuan kali ke Bogor. Secara kota ini pernah punya cerita kheses bagiku.

Well ya, sebagai backpacker amatiran, aku iyakan saja. Karena bagaimanapun juga, saran untuk foto itu berguna juga, karena kan untuk menggambarkan sejauh mana metamorfosa penampilan kami dari mulai kucel sampai super kucel, dari Jakarta ke Ujung Sukabumi.

Dari Stasiun Bogor aku putuskan untuk naek angkot. Yang decision maker ya aku lah.Bukannya aku lebih pinter, tapi bukankah dua orang bodoh jika bersatu akan menjadi setengah jenius xixixixi...:)

Naek angkot ke Terminal Bogor, kata Bapak timer disana, engga ada bis yang bisa membawa ke Surade, (oya nama Surade ini sangat familier dan terkenal untuk orang yang ingin trip ke Ujung Genteng, karena rupanya di Desa Surade di Kabupaten Sukabumi ini adalah Desa yang "berperadaban" terdekat dengan si laut Ujung Genteng yang bener-bener di Ujung ini)


"Jadi kami mesti kemana Pak?" tanyaku agak pusing. Gawat mana ongkos pas-pasan, nekat pula, bis nya engga ada pula.


Oya, saat perjalanan ini, sebetulnya aku dan sepupuku sedang dalam keadaan amat sangat bersitegang, karena sebab musabab dan permasalahan yang sangat tolol dan dangkal, apalagi kalau bukan lawan jenis...hhikksss huekssss, untung selesai...(I HOPE)

Mual rasanya mendadak perutku, juga kepalaku. Tapi kupaksakan aja liat sepupuku masih exciting tampaknya.

"Adanya ke Sukabumi dulu, baru ke Surade,kalau Neng mau nunggu yang langsung ke Surade takut kemaleman dan ga keburu" kata si Bapak.


Ya sud. Naeklah aku ke sebuah elf yang isinya berjejalan dengan berbagai bau badan manusia, jenis kelamin, dan terutama dengan penumpang yang melebihi quota. Harusnya isi 11 orang dengan supir, dipaksakan jadi 16. My Godness...beginilah rasanya miskin...

Terus kita berjejalan di dalam si Elf L 300 ini selama kurang lebih 3 jam, from Bogor-Sukabumi.

Sukabumi

Jam 1 atau 2 siang Aku sampai di Sukabumi. Kalau aja emang tujuannku bukan ke UJung Genteng, atau kalau saja uang di sakuku tidak pas-pasan atau kalau saja aku nekat berpetualang yang tidak amatiran, aku pengen keliling dulu kota Sukabumi. Karena nice kurasa...kulihat, ada sedikit gimana gitu... cocok buat runaway terus cari inspirasi menulis...

Sampai di Sukabumi, angkot berikutnya yang membawa ke Desa Surade tidak ditemukan.. Nah loh..apa kesiangan ya??

Ternyata si angkot bukan di terminal tempat kami turun. Tapi masih di terminal yang lain. So, kami naek ojeg yang lagi-lagi tidak murah harganya ke terminal yang dimaksud. Namanya Terminal Lembur Situ. Dari terminal inilah ada si kendaraan (lagi-lagi elf L 300) yang akan membawa kami ke Desa Surade, nama yang membuatku merinding entah kenapa. Dalam benakku itu desa terpencil dan gimanaaa gitu. Kaya game silent hill yang sering aku maenkan dulu di Play Station.

"Mau kemana Neng, " tanya si tukang ojeg iseng
"Mau ke Ujung Genteng Bang, "
"Wah kesorean atuh, berdua aja? cewek cewek?"
"Iya Bang,"
"Waduhhhhhh berani bangettttttt, " jawab si Tukang Ojeg. Entah kasian atau ngasih compliment dengan kalimat "waduh berani banget itu" lagi pula enggak bisa kunilai dari eksresi wajahnya karena aku di belakang. Cuman dari nada bicaranya aku tau dia salut. Makin merindinglah Aku.

Astaga Anggie...what the hell are you doing ???? mau kemana??? berdua pula, menuju desa antah berantah menjelang twilight...

Tapi terlanjur basah. lagian percuma juga, mau gimana lagi, masa mau balik lagi?

Sukabumi-Surade

Nah...akhirnya dari terminal Lembur Situ  ini, oya si terminal ini adalah Sub Terminal, jadi kecil, terminal yang hanya ada angkot angkot tempat transit nya mobil-mobil pengangkut sayur, pedagang dari dan ke Surade ke sekitrantnya dari Sukabumi.

Naek Elf L 300 lagi....dan kembali berdesak-desakan..

Yang unik, penumpang di elf yang ini ceria-ceria, tidak kucel dan penuh tanda tanya dan emosi seperti kami. Kupikir tujuan mereka dekat dan tidak sejauh kami, ternyata you know what mereka juga sama turun di Surade, dengan tanpa tidur sama sekali dan terus ngoceh tak berhenti, padahal aku dan sepupuku selama 4 jam duduk di L 300 itu terbanting ke kanan ke kiri, kepala kejedot sana sini, mengingat jalan berliku dan super berkelok-kelok. Luar Biasa akan membuat mual bagi yang mabok perjalanan.

Dulu aku sering mabok kalau perjalanan jauh. Tapi seiring waktu dan seringnya travelling serta usia yang semakin menua (hihihi) aku enggak pernah mual lagi.

Itu jalan Sukabumi-Surade jauh lebih parah dari jalur Puncak, atau Cadas Pangeran di Jawa Barat, ketika lepas dari Cirebon menuju Bandung, atau dari Probolinggo ke Gunung bromo. Wah parah. Super berkelok-kelok mungkin yang mengalahkan seperti kelok 44 di Sumatra Barat yang konon katanya jika ingin ke sebuah kota bernama Kepahyang, kelok serupa akan membuat orang mual tak karu karuan.

Alhamdulilah aku dan sepupuku tidak. Tetap nyengir dengan cueknya dan tetap ketawa ketawa-tidur, ketawa-tidur lagi, dengan punggung pegal dan pantat hampir rata rasanya.

Finally.. Surade

Jam 4.pm

Terminal desa Surade asli sepiiiiiiii, enggak ada satupun angkot, elf, kuda, becak, atau apapun...

Sama sekali engga ada. Sehingga supir Elf pun bertanya, apakah kami mau carter saja langsung ke Ujung Genteng, tadinya aku akan mengangguk aja, daripada terlantar di desa terpencil yang jauh dari peradaban begini.

Eh untung lah, ada Elf L 300 berikutnya yang datang dan menawarkan kepada kami untuk ikut aja sekalian dengan rombongan yang mau ke Ujung Genteng. Jadi kami pun langsung mengelus dada mengucap syukur, Alhamdulilah Allah selalu melindungi. Selalu.

Dengan perasaan gimana gitu aku langsung berdizikir....astaga,,,how many hour again I had to going trough untuk nyampe pantai yang katanya berbatasan langsung dengan samudra Hindia ini?

Ternyata hanya 1 jam (hanya loh yah..mengingat dari pagi tadi, selalu minimal 3 jam duduk terpaku di dalam mobil..

Ujung Genteng

Ternyata jaraknya kurang lebih 33 km...ugghhhhh..total perjalananku seharian dari Jakarta berarti 12 jam karena jam 5 pm tepat aku sampai di pantai Ujung Genteng ini.